Category Archives: klosobedah

dipindahkan ke klosobedah.wordpress

Intisari Musarar Joyoboyo

Intisari pemaknaan dari sudut pandang simbolis dituangkan dalam bentuk gambar dibawah ini.

pilihan sikapBerawal dari sebuah pilihan, antara kepentingan pribadi atau kepentingan bersama. Membuat Keputusan tidaklah sulit bagi mereka yang sudah tegas ada di posisi mana (devil or angel)… tetapi bagi orang kebanyakan adalah tidak mau merugikan diri pribadi. Mereka adalah massa mengambang, dilambangkan sebagai tikus pithi.

public opinionMasa inilah yg diperebutkan- ditata- diarahkan mendukung pergerakan tertentu untuk mencapai tujuannya… menata para tikus pithi untuk tujuan sesuai skenario pembuat strategi. Pergerakan massa bisa secara fisik maupun opini sesuai strategi masa kini.

 

 

25 Komentar

Filed under klosobedah

Tikus Pithi Anoto Baris

Tikus pithi anoto baris.

Tahap ini paling akhir sebelum Sabdo Palon & Noyo Genggong kembali menjadi pengasuh bangsa. Pada kebanyakan blog, hal ini diartikan sebagai perlawanan rakyat kecil yang menyeluruh.

Menurut kamus jawa, pengartian Tikus Pithi adalah sejenis tikus bentuk fisiknya kecil yang hidup di pepohonan dan makanannya buah-buahan. Bentuk tikus pithi ini “imut” dan lucu (beda dengan tikus rumah atau got), mungkin karena itu dimaknai sebagai rakyat kecil yang menata barisan untuk tujuan tertentu (bisa baik/ positif atau buruk/ negatif). 

Baca lebih lanjut

48 Komentar

Filed under klosobedah

Kodok Ijo Ongkang-Ongkang

Kodok ijo ongkang- ongkang.

Hal ini menyusul pitik tarung sekandang.

potong kue

1 Komentar

Filed under klosobedah

Tarung Sekandang.

Pitik tarung sekandang, ini merupakan dampak dari janji lesan yang tidak dapat dipegang (lenyapnya Sabdo Palon & Noyo Genggong) saat kebo bongkang nyabrang kali bengawan.
tarung sakandang 1

48 Komentar

by | 14/03/2015 · 11:11 am

Satrio Piningit atau Satrio Ra Piningit ?

Satrio Piningit.
Karakter manusia secara naluri natural adalah mencari keselamatan, keamanan dan kenyamanan diri sendiri (egosentris) tanpa peduli yang lain, naluri ini sama seperti pada binatang. Karakter setingkat naluri ini terlihat pada awal perkembangan kejiwaan anak dan akan berubah sesuai tumbuh kembangnya otak serta pengalaman yang diperolehnya.

Apabila mendapatkan asuhan kasih sayang dan didikan budi pekerti luhur maka karakter tersebut akan berubah menjadi tidak mementingkan diri sendiri, peduli bahkan sanggup berkorban untuk orang lain serta membela dan menegakkan kebenaran. Karakter ini yang disebut sebagai kesatria tanpa dipengaruhi oleh bentuk-rupa fisiknya. Perkembangan seperti inilah yang menempatkan manusia lebih mulia dibandingkan dengan binatang.

Baca lebih lanjut

33 Komentar

Filed under klosobedah

Sabdo Palon dan Noyo Genggong

Sabdo Palon dan Noyo Genggong

Merupakan awal (penyebab) dari lenyapnya kesejahteraan/ kemakmuran di tanah-air yang dalam bahasa Jawa kuno (Kawi) “Sirno Ilang Kertaning Bhumi” karena hilangnya (murcane) Sabdo Palon dan Noyo Genggong. Hal ini juga yang akan mampu mengakhirinya sehingga kembali ke masa kemakmuran/ kesejahteraan yang dikatakan sebagai kembalinya Sabdo Palon dan Noyo Genggong sebagai pemomong/ pengasuh bangsa.

Telah ratusan tahun kesejahteraan telah lenyap seiring dengan kerusakan di bumi pertiwi dan ini telah diramalkan oleh leluhur yaitu Jayabaya. Disabdakan bahwa nanti akan timbul masa kejayaan- kemakmuran- kesejahteraan (disebutkan sebagai zamanku/ seperti zaman pemerintahan Jayabaya) apabila telah ada tanda-tandanya.

Pertandanya adalah ada perahu berjalan diudara (pesawat terbang), kereta tanpa kuda (mobil), pulau Jawa kalungan wesi (rel kereta api), pajak mencekik leher, orang jujur ajur, pencuri pada menari dst …. tetapi tanda-tanda tersebut telah ada sejak jaman penjajahan kolonial Belanda dan ternyata zaman kemakmuran dan kesejahteraan belum datang juga.

Apakah ini berarti ramalan Jayabaya hanya isapan jempol saja?.

Ataukah kita salah memaknai isi ramalan tersebut?.

Baca lebih lanjut

25 Komentar

Filed under klosobedah

Kertaning Bhumi

Kertaning Bhumi.

Kata yang berasal dari bahasa Jawa kuno ini tidak lazim digunakan di berbagai media maupun dalam percakapan. Kata yang hanya terdengar saat Ki Dalang menggambarkan kemakmuran negeri Amartapura di panggung pewayangan. Kata yang juga sesekali muncul di komunitas terbatas yang merindukan timbulnya kembali zaman kemakmuran seperti yang telah diramalkan oleh Jayabaya.
Kerto raharjoKerta” berarti “sejahtera, aman, tenteram” dan “Bhumi” artinya tanah-air, jadi secara keseluruhan bermakna tanah-air yang aman-tenteram-sejahtera tertata dengan baik tertib dan teratur. Keadaan seperti inilah yang menjadi impian rakyat sehingga mendirikan negara merdeka yang bebas menentukan nasibnya sendiri.

Baca lebih lanjut

8 Komentar

Filed under klosobedah