Kertaning Bhumi

Kertaning Bhumi.

Kata yang berasal dari bahasa Jawa kuno ini tidak lazim digunakan di berbagai media maupun dalam percakapan. Kata yang hanya terdengar saat Ki Dalang menggambarkan kemakmuran negeri Amartapura di panggung pewayangan. Kata yang juga sesekali muncul di komunitas terbatas yang merindukan timbulnya kembali zaman kemakmuran seperti yang telah diramalkan oleh Jayabaya.
Kerto raharjoKerta” berarti “sejahtera, aman, tenteram” dan “Bhumi” artinya tanah-air, jadi secara keseluruhan bermakna tanah-air yang aman-tenteram-sejahtera tertata dengan baik tertib dan teratur. Keadaan seperti inilah yang menjadi impian rakyat sehingga mendirikan negara merdeka yang bebas menentukan nasibnya sendiri.

Impian yang sejak dulu hingga sekarang masih menjadi “wacana dan retorika” karena belum mampu diwujudkan sejak berhasil mendirikan negara sendiri yang merdeka dan berdaulat penuh yaitu tatanan pemerintahan yang adil, tertata dengan tertib dan aman tenteram serta sejahtera.

Hari demi hari… bulan demi bulan… tahun demi tahun… bukannya semakin baik tetapi semakin banyak hutang dan kerusakan berbagai sumber daya alam semakin parah sehingga semakin lenyap kemakmuran di bumi pertiwi (Sirno Ilang Kertaning Bhumi).

Makna kalimat tersebut di atas punya dualisme arti, yaitu simbol tahun Saka (1400 th saka ) runtuhnya kejayaan kerajaan Majapahit. Pengertian secara harfiah bermakna lenyap-nya kemakmuran di tanah-air.

Berdasarkan penalaran, bumi wilayah nusantara adalah daerah subur yang bisa ditanami bahan makanan dan kaya berbagai mineral yang dibutuhkan manusia. Oleh karena itu tidak mungkin kemakmuran bisa lenyap di bumi Indonesia kecuali…. tidak sempat diolah karena situasi tidak aman, tidak punya lahan/ tanah/ bhumi yang jadi sumber kehidupannya karena penguasaan lahan yang tidak merata, tidak ada kemampuan atau salah kelola. Kalau hanya masalah tersebut diatas tentunya bukan masalah yang sulit diatasi, penyebab terparah adalah tidak adanya niatan/ kemauan untuk mensejahterakan rakyat tapi malah memanfaatkan kepercayaan rakyat untuk mensejahterakan diri dan kelompoknya.

Penataan lahan pertanian yang semakin membuat sengsara para petani kecil. klik disini. Kondisi kelautan yang makin membuat susah nelayan. klik disini.

Hal tersebut sesuai dengan yang telah diramalkan oleh Joyoboyo yaitu akibat lenyapnya Sabdo Palon dan Noyo Genggong dan akan kembali ke zaman kemakmuran bila keduanya telah datang kembali menjadi pengasuh bangsa.

Siapakah Sabdo Palon & Noyo Genggong?.. ini dibahas di topik selanjutnya.

Nuwun.

 

 

 

8 Komentar

Filed under klosobedah

8 responses to “Kertaning Bhumi

  1. O-O

    Waduuh… dapat bintang dari simbah.
    Matursuwun Kang Wager, Awalnya ingin nulis sekaligus… tapi bikin pusing dan lama terbengkalai…. akhirnya dibikin terpisah-pisah per-Bab dan nanti diakhir baru dibikin ringkasan menyeluruh.
    Nuwun.

    • Tulisan type blog, bagusnya memang keluar sepotong-sepotong atau bersambung. Nanti tinggal diatur atau dikelompokkan dengan katagori. Nanti kalau mau lengkap, tinggal klik katagorinya.

      Kalau ditulis lengkap sih bagus, cuma nulisnya pasti kelamaan dan penonton jadi bubar karena tdk sabar nunggu.

      • O-O

        Salam Kang Wager.
        Duuuh…. Suwun advis akang Wager.
        Siiplah…. segera diterbitkan tentang “Sabdo Palob dan Noyo Genggong”
        Hehe…. ulasan yg lain dari tulisan pada kebanyakan blog…. biasa…nentang arus🙂
        Nuwun.

  2. wungu

    Maturnuwun
    seratan agung eyang DJOYOBOYO yang lama termarginalkan.
    perlu untuk ditelaah diteliti jadi panduan putra putri negeri sendiri.
    kitab luar saja yg dibahas, dis orientasi.
    yang suasana kebatinannya beda dengan yg dibuat manusia lama negeri sendiri.

    kitab, seratan neheri sendiri
    pasti Lebih pas

    satu kata untuk artikel diatas:
    ” maturnuwun “…..
    Semoga semua bisa saling melengkapi.

    • O-O

      Salam Kenal Kang Wungu.
      Waah…. alangkah senangnya masih ada sedulur yang masih peduli dengan peninggalan leluhur… Maturnuwun.
      Sugeng Rawuh Kang Wungu.

  3. Salam komandan,kang wungu @ benar sekali ndan..sabdo palon dan nayo genggong mesti hadir dalam sebuah kitab nusantara yg sudah disempurnakan..

    • O-O

      Salam Kang Nur.🙂
      Duuhh… Senengnya… Kang Nur masih punya waktu berbagi wawasan.🙂
      Sependapat Kang…. ada satu tahap sebelum Sabdo Palon & Noyo Genggong kembali menjadi pengasuh bangsa yaitu “Tikus Pithi Anoto Baris”… sangat mungkin fase ini adalah penentu kembalinya Sabdo Palon & Noyo Genggong. Maap… tulisan sedang dipersiapkan.
      Nuwun.

  4. Ping-balik: Tikus Pithi Anoto Baris | "Pagelaran Kloso Bedah"

Bila Berkenan, Mohon Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s