Wacana, Retorika dan Visioner.

Wacana, Retorika dan Visioner merupakan kata yang sering ditemukan di berbagai media belakangan ini terkait dengan Pilpres 2014. Mencermati isi yang terkandung dari berbagai tulisan atau komentar di media tersebut ternyata belum banyak dipahami arti atau makna sebenarnya dari kata tersebut.

Agar lebih mudah memahami makna Wacana, Retorika & Visioner maka ini contoh sebuah percakapan sbb:

Dalam sebuah warung kopi, beberapa orang miskin terlibat pembicaraan sekedar pengisi sepi. Topik pembicaraan “berandai-andai” punya 10 butir telur bebek. Si “A” bicara rencana yang akan membuat dadar telur lengkap dengan bumbu rempah-rempahnya. Si “B” bercerita akan membuat telur bebek asin lengkap dengan tata cara membuatnya. Si “C” hanya terbengong- bengong tidak tahu apa yang akan diperbuatnya. Si “D” bicara tentang rencana menetaskan 10 butir telur bebek tsb sebagai langkah awal untuk membuat peternakan bebek. Beberapa orang lain hanya jadi pendengar dan pengamat saja, termasuk si “E” yang kelihatannya cukup kaya dari penampilannya. Setelah si “D” menceritakan rencananya, kelihatan si “E” sangat tertarik dan menanyakan berbagai hal tentang cara menetaskan dan membesarkan bebek pada si “D” yang dengan antusias menerangkannya.

Dari ceritera diatas, mereka (si “A”, “B”, “D”) mengungkapkan sebuah “Wacana” apa yang akan mereka lakukan bila seandainya mereka mempunyai 10 butir telur bebek, hanya si “C” yang tidak punya “Wacana”. Semua “Wacana” tersebut dapat dikatakan sebagai sebuah “Wawasan” yang bersifat “Visioner”, hanya saja berbeda dari segi kwalitasnya. Si “A” punya “Wacana Visioner” jangka pendek karena hanya sekedar membuat telur bebek dadar yang tidak awet dan cepat habis dikonsumsi. Si “B” punya “Wacana Visioner” lebih baik dari si”A” karena berencana membuat telur bebek asin yang lebih awet sehingga dapat dikonsumsi lebih lama. Si “D” mempunyai “Wacana Visioner” yang paling baik karena dia merencanakan tindakan yang dapat meningkatkan nilai dari telur menjadi bebek yang dapat menghasilkan telur (memperbarui sumber-daya terus- menerus/ renewing resources). Nah… ketika rencana si “D” mulai menarik perhatian si “E” maka si “D” mulai “menjual/ mempromosikan” idenya dengan harapan si “E” akan menanam saham maka tindakan si “D” memaparkan “Wacana Visioner”-nya ini disebut sebagai “Retorika”.

Apabila kurang jelas, silahkan baca tulisan berikut di bawah ini.

“Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 1552), wacana adalah satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh seperti novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah. Sebagai satuan bahasa terlengkap, maka dalam wacana itu berarti terdapat konsep, gagasan, pikiran, atau ide yang utuh, yang bisa dipahami oleh pembaca (dalam wacana tulis) atau pendengar (dalam wacana lisan) tanpa keraguan apapun (Chaer, 2007: 267). Wacana yaitu semua bentuk paparan lisan maupun tertulis yang berciri merupakan wadah penyampaian informasi ataupun pikiran yang utuh (Marwoto dkk, 1985: 51). Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa wacana merupakan satuan bahasa terlengkap yang berbentuk paparan lisan maupun tulis yang berfungsi sebagai media penyampaian informasi, ide, gagasan, ataupun hasil pemikiran kepada publik“.  http://digilib.ump.ac.id/files/disk1/19/jhptump-a-dhinadwifi-914-2-babii.pdf

Tulisan tentang Retorika sebagai berikut:

“Menurut Effendy (2004:53) retorika atau dalam bahasa Inggris rhetoric bersumber dari perkataan latin rhetorica yang berarti ilmu bicara. Cleant Brooks dan Robert Penn Warren (dalam Effendy, 2004:53) dalam bukunya Modern Rhetoric, mendefinisikan retorika sebagai the art of using language effectively atau seni penggunaan bahasa secara efektif. Menurut Hendrikus (2009:14) retorika berarti kesenian untuk berbicara baik (kunst, gut zu redden atau ars bebe dicendi) yang dicapai berdasarkan bakat alam (talenta) dan keterampilan teknis (ars, techne). Menurut Hendrikus titik tolak dari kajian retorika adalah keterampilan berbicara. Menurut Keraf (1999:1) retorika merupakan suatu istilah yang secara tradisional diberikan pada suatu teknik pemakaian bahasa sebagai seni, yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun baik. Menurutnya dua aspek yang perlu diketahui seorang dalam retorika, yaitu pengetahuan mengenai objek tertentu yang akan disampaikan dengan bahasa tadi.

Retorika adalah seni sekaligus ilmu yang mempelajari penggunaan bahasa dengan tujuan menghasilkan efek persuasive. Selain logika dan tata bahasa, retorika adalah ilmu wacana yang tertua yang dimulai sejak zaman Yunani kuno. Hingga saat ini, retorika adalah bagian sentral dalam pendidikan di dunia Barat. Kemampuan dan keahlian untuk berbicara di depan audiens publik dan untuk mempersuasi audience untuk melakukan sesuatu melalui seni berbicara adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pelatihan seorang intelektual (Johnstone, 1995). Retorika sebagai cabang ilmu berkaitan erat dengan penggunaan simbol- simbol dalam interaksi antar manusia.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut maka  disimpulkan bahwa retorika merupakan suatu seni kemahiran berbahasa secara lisan maupun tulisan untuk mempengaruhi orang lain yang dicapai melalui bakat alam dan keterampilan teknis.
http://digilib.ump.ac.id/files/disk1/11/jhptump-a-sugriyani-537-2-babii.pdf 
http://repository.petra.ac.id/15901/1/Publikasi1_03028_512.pdf

13 Komentar

Filed under Uncategorized

13 responses to “Wacana, Retorika dan Visioner.

  1. Ini ceritanya mau bikin tape atau tempe Kang? Sebelum dijual atau dipamerkan ke pasar, diumpet-umpetin dulu agar raginya tumbuh dan matang? Wakakakkk……

    • O-O

      Wakakakkkk……
      Hmm.. sebenarnya cuma krn rasa malu aja kok kang… krn tidak berbobot sehingga tak menarik perhatian pengunjung…. so.. tulisan hanya dipakai sendiri.
      Suwun Kang Wager.

      • O-O

        Sekarang dibuka lagi untuk umum… tapi hanya sebagian saja.

      • Bobot atau kualitas ndak penting.
        Toh juga ndak akan jadi duit.

        Tulisan bebobot juga kagak ada untungnya.
        Bikin pembaca susah berkomentar.
        Apalagi kalau pakai bahasa aneh-aneh penuh angka statistik.
        Bikin orang tambah ngacir.🙂

  2. O-O

    He..he..he… bener Kang Wager.

  3. Reblogged this on jackpitusongo and commented:
    Sekedar “review” sebuah “istilah kata” yang sering salah pemaknaannya.

  4. me

    Neo: You helped me to get here, but my question is, why? Where is this going? Where does it end?

    Oracle: I don’t know.

    Neo: You don’t know or you won’t tell me?

    Oracle: I told you before. No one can see beyond a choice they don’t understand, and I mean no one.

    Neo: What choice.

    Oracle: It doesn’t matter. It’s my choice. I have mine to make same as you have yours.

    Neo: Does that include what things to tell me and what not to tell me?

    Oracle: Of course not

    Neo: Then why didn’t you tell me about the Architect? Why didn’t you tell me about Zion, the ones before me? Why didn’t you tell me the truth?

    Oracle: Because it wasn’t time for you to know.

    Neo: Who decided it wasn’t time?

    Oracle: You know who.

    Neo: I know. But, I think it’s time for me to know a few more things.

    Oracle: So do I.

    Neo: Tell me how I separated my mind from my body without jacking in. Tell me how I stopped four sentinels by thinking it. Tell me just what the hell is happening to me.

    Oracle: The power of the one extends beyond this world. It reaches from here, all the way back to where you came from.

    Neo: Where?

    Oracle: The source. That’s what you felt when you touched those sentinels, but you weren’t ready for it. You should be dead, but apparently you weren’t ready for that either.

    Neo: The Architect told me that if I didn’t return to the source, Zion would be destroyed by midnight tonight.

    Oracle: Please. You and I may not be able to see beyond our own choices, but that man can’t see past any choice.

    Neo: Why not?

    Oracle: He doesn’t understand them, he can’t. To him they are variables and equations. One at a time each must be solved and counted. That’s his purpose: to balance the equation.

    Neo: What’s your purpose?

    Oracle: To unbalance it.

    Neo: Why? What do you want?

    Oracle: I want the same thing you want, Neo, and I’m willing to go as far as you are to get it.

    Neo: The end of the war. Is it going to end?

    Oracle: One way or another.

    Neo: Can Zion be saved.

    Oracle: I’m sorry I don’t have the answer to that question. But, if there is an answer, there’s only one place you’re going to find it.

    Neo: Where.

    Oracle: You know where. And if you can’t find the answer, then I’m afraid there may be no tomorrow for any of us.

    Neo: What does that mean?

    Oracle: Everything that has a beginning, has an end. I see the end coming. I see the darkness spreading. I see death. And you are all that stands in his way.

    Neo: Smith.

    Oracle: Very soon he’s going to have the power to destroy this world. But I believe he won’t stop there, he can’t. He won’t stop until there’s nothing left at all.

    Neo: What is he?

    Oracle: He is you, your opposite, your negative, the result of the equation trying to balance itself out.

    Neo: And if I can’t stop him.
    😀

    Oracle: One way or another, Neo, this war is going to end. Tonight, the future of both worlds will be in your hands or in his.
     

    • o-o

      Hi🙂 … nice to meet you.
      Sorry …. I’m confused have received your comments. What do you mean to write the conversation from the movie Matrix?

      • me

        Oracle: Urip Iku Urup. Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto dhur angkoro. Suro Diro Joyoningrat, Lebur Dening Pangastuti. Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, Sekti Tanpo Aji-Aji, Sugih Tanpo Bondho. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan. Aja Gumunan, Aja Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman. Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman. Ojo Keminter Mundak Keblinger, Ojo Cidra Mundak Ciloko. Ojo Milik Barang Kang elok, Ojo Mangro Mundak Kendo. Ojo Adigang, Adigung, Adiguna.

        Neo: ?

      • o-o

        Se7 kang.
        Lhah… tibae podho jowone🙂

  5. to

    Oracle: The world needs a hero they can believe in. Is he actually the son of God? I don’t think it really matters. You don’t need to be a demigod to be a hero. You just need to believe you’re a hero.

    Neo: ?

Bila Berkenan, Mohon Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s