Kebutuhan Rakyat

Kebutuhan DasarRAKYAT setiap NEGARA pada umumnya sama. MenurutMaslow adalah: 1) Kebutuhan fisiologis atau dasar; 2) Kebutuhan akan rasa aman; 3) Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi; 4) Kebutuhan untuk dihargai; 5) Kebutuhan untuk aktualisasi diri.

Kebutuhan Dasarversi Klosobedah yaitu “Hanya Satu” karena masing-masing point tidak bisa di nomorDUA-kan.

Kebutuhan Dasar Rakyat

Kebutuhan dasar rakyat2
Kebutuhan Dasar 3

 

43 Komentar

by | 29/03/2014 · 3:11 am

43 responses to “Kebutuhan Rakyat

  1. omie

    Salam Komendan dan poro akang semuanya.
    Tulisan tentang kebutuhan dasar ini lebih kelihatan nyata dari pada teori Maslow yg saya dapatkan di bangku sekolahan.
    Gracias ndan.

  2. O-O

    Ah… cuma tulisan abal-abal saja… yang penting berbagi ide.
    Btw… terimakasih kang Omie.

  3. Ternyata kata AMAN bisa berarti sangat luas. Tampaknya baru no 5 yang tepenuhi. Eh, ndak ada nomornya Kang?

  4. senyum

    Salam komendan, kang Omie, Kang jenggot uban lan poro sedulur kabeh..
    Wah mantap.. rangkuman teori Maslow nya… agar AMAN dibutuhkan manusia yang WELCOME di semua kalangan dalam dan luar negeri… jangan sampai PERSONA NON GRATA poro sedulur….. tanpa musik hidup serasa hampa kang… hehehe

  5. senyum

    Rasa AMAN jangan lagi diselesaikan dengan pendekatan KEAMANAN.. selesaikan dengan PENDEKATAN KASIH dan SAYANG.. Allah Maha Pengasih dan Penyayang… dan bila sejarah membuktikan terjadinya ADU KEKUATAN MILITER… untuk mendapatkan RASA AMAN itu… menurut versi masing2 PEMERINTAH… dari jaman kerajaan NUSANTARA sampai era SBY… ada baiknya semua komponen bangsa melakukan ISLAH… saling memaafkan dan merelakan… karena Allah pun Maha Pemaaf… hingga tak ada lagi istilah PERSONA NON GRATA…
    Panggillah semua korban2 dan keluarga disantuni dipelihara oleh negara. Perbedaan pandangan ideologi agama politik terjadi disebabkan karena belum ada KONSEP BAKU untuk mencapai RASA AMAN yang SEJATI.

    Tata cara yang paling IDEAL menyelesaikan semua keruwetan berbangsa bernegara bermasyarakat adalah. dengan ISLAH… pemerintah BARU sebaiknya mampu menjembatani ISLAH itu… semua komponen RAKYAT (militer sipil) merelakan DRAMA KEHIDUPAN yang saling INGIN LEADING sebelumnya spt yang tercatat dalam sejarah itu.. ada Mahabarata sampai perang ideologi dan segala perang akibat beda pandangan dalam MEMENUHI KEBUTUHAN HIDUP manusia itu secara AMAN, karena INTINYA manusia itu TAKUT tidak MAMPU HIDUP AMAN…

    PEMERINTAH sebaiknya memulai memimpin rakyatnya berlatih diri menghilangkan rasa TAKUT dalam memenuhi KEBUTUHAN HIDUP dan kembali merasa BERANI dan YAKIN BISA dengan KASIH dan SAYANG… BERANI BERBAGI ANTAR SESAMA Makhluk Ciptaan Gusti Allah dengan 99 Sifat dan KemampuanNya itu… tidak serakah tidak merasa paling benar tidak merasa paling berhak… dst dst… Hanya sebatas pandangan saja mencari RASA AMAN itu… hehehe
    Matur Suwun dan maaf kalau ada yang tersungging eh tersinggung..

  6. omie

    Salam ndan, kang Senyum, eyang Wagerrr.
    Betul juga kalau pendapat kang Senyum seperti itu, kekuatiran pendekatan dengan dalih “Keamanan” seperti zaman Orde Baru.
    Kalau saya resapi berkali-kali dan dengan cara yang sama, saya analisis situasi di rumah… saya adalah seorang kepala Rumah Tangga.. bolehlah disebut “Presiden Rumah Tangga”…😆 anak-anak saya adalah “Rakyat” dan mamanya anak-anak adalah “wakil Presiden”… atau bolehlah disebut “perdana mentri”….😆
    Kebutuhan dasar anak-anak yang harus saya penuhi (merujuk teori kebutuhan dasar diatas):
    a. Menjaga anak-anak saya dari ancaman (kekerasan/intimidasi dll) yang dilakukan oleh anak-anak tetangga/orang lain/geng-geng dll dengan cara selalu diantar-jemput oleh sopir serta memberikan pendidikan tentang dampak pergaulan. Perlakuan saya ini menggunakan pendekatan “Keamanan” demi keselamatan jiwa dan kerusakan moral akibat pergaulan.
    Cara pendekatan yang sama untuk sebuah negara dengan rakyat ratusan juta….. tinggal dikalikan/ kelipatannya saja dibandingkan dengan rumah tangga. Semua warganegara harus dilindungi keselamatan jiwanya saat berada di luar negri dan dijaga moralnya dari pengaruh jelek dari luar.
    b. Menjaga anak-anak dan istri dari ancaman tindak kriminalitas dengan cara tidak pamer harta/emas/uang/ HP mahal/ baju-sepatu-tas dll serta kemana-mana dikawal sopir. Nah… yang ini juga pendekatan “Keamanan”.
    c. Menjaga keluarga dari ancaman penyakit dengan cara mendidik keluarga untuk menjalani kebiasaan bersih (bersih tangan, alat makan/minum, bersih bahan makanan dan bersih pengolahannya) dan bila makan diluar maka memilih warung yang bersih. Memang jadi serba mahal, tetapi jauh lebih mahal bila sampai sakit apalagi sampai nginap di rumah sakit. Pendekatan ini juga menggunakan cara pendekatan “Keamanan”.
    Demikian pula semua kebutuhan anak-istri harus saya amankan. Tentunya tindakan saya begitu karena berlandaskan Kasih Sayang pada anak-anak dan istri. Jadi pendekatan Keamanan tergantung niatnya untuk apa “mengamankan” sesuatu tersebut. Seperti sebuah pisau, bisa digunakan baik atau buruk tergantung tujuannya.
    eh… capek juga ngetiknya…. maaf istirahat dulu.

  7. senyum

    Salam kang Omie, komendan, kang wagerr
    Betul Kang Omie.. AMAN adalah TANGGUNG JAWAB DALAM MENJALANI KEBERLANGSUNGAN HIDUP MANUSIA (terurai dengan lengkap spt tsb di atas)….. selain istri dan anak mungkin uraian lain perlu ditambahkan kata KEAMANAN berlandaskan KASIH SAYANG kang Omie, kan mkin unyu unyu gitu.. hehehe… capek ngetik ya kang? sini tak pijit pijit pakai tuts keyboard…. wkwkwk

    • omie

      Hihihi..hehehe…. maturnuwun kang Senyum… pijitannya terasa sampai di urat… sudah baikan sekarang apalagi tadi sempet tidur sehabis isya’.
      Waaah… betul itu ketinggalan ya kang… sila ke 1 Pancasila seharusnya Kasih Sayang antar sesama warganegara dan terhadap alam seisinya sebagai pengejowantahan KeTuhanan YME…🙄
      Salam ndan, simbah Wagerrr, kang Nur, kang Lesung, kang JS, JDD.

  8. o-o

    Salam Kang Senyum, Kang Omie, Kang Wager dan porosedulur.
    Terimakasih kang Senyum atas penambahan keterangan yaitu atas dasar Kasih Sayang pada pendekatan Keamanan. Terimakasih kang Omie atas kiriman komennya yang bikin cape jari… nanti akan saya salin keatas.
    Terimakasih kang Wager… memang “aman” itu sangat luas pengertiannya.
    Nuwun.

  9. omie

    Salam ndan, kang senyum, kang nur, simbah, JDD.
    ah… gara-gara ngebayangin akhirnya impen-impenen… tahu-tahu saya beserta anak istri jadi orang primitif berkancut daun kering disebuah daerah berbatu berbukit dan didepannya ada lembah yang hijau. lhah jadinya… ngah-ngoh ngowoh (ternganga) terheran heran… untung segera tersadar harus berbuat apa. pertama terpikir adalah situasi gawat bin genting kuatir ada ancaman binatang buas atau orang liar kanibal, maka segera observasi apa saja yang ada disekitar yang sekiranya dapat dijadikan senjata untuk melindungi diri kami sekeluarga. Yang pertama kali dicari adalah batu segemgaman tangan sebanyak banyaknya yang mampu dibawa, batu tsb untuk senjata lemparan dan mencari baru pipih atau batu oval panjang untuk dibelah dijadikan pisau pemotong. Sambil mencari batu juga observasi adanya dahan kayu kering yang lurus sebesar lengan untuk senjata tongkat/tombak serta observasi bahan makanan dan sumber air juga mencari lokasi “base camp” untuk bertahan. Lokasi yang bagus idealnya berupa gua di ketinggian antara 3-6 m pada tebing terjal kemiringan 90 derajat dengan bibir gua bagian atas menjorok keluar. Pertimbangan pemilihan gua model tersebut karena hampir dapat dipastikan tidak mungkin ada binatang buas maupun ular didalamnya, masih mungkin dihuni kelelawar tetapi malah beruntung bila nemu gua kelelawar karena bisa jadi bahan makanan…. kelelawar bakar… nyam…nyam…lezat… hihihi. Pilihan lainnya apabila gua tidak ditemukan dengan segera maka sebagai cadangan adalah pohon besar yang berjarak minimal 3 m antara dahan pohonnya dengan dahan pohon sekitarnya, pohonnya berbatang lurus dengan dahan yang tinggi…. pemilihan tersebut untuk mengamankan keluarga dari serangan macan tutul/kumbang dan ular pohon. Ternyata akhirnya gua idaman bisa ditemukan, selanjutnya membuat tangga kayu untuk menuju pintu gua dan memasukinya berbarengan dengan seluruh keluarga, ternyata betul.. suasana gua lembab dan hanya berisi kelelawar yang bergantungan di atap gua yg tingginya sekitar 4m. Selanjutnya anak istri siaga menunggu dimulut gua sambil siaga dengan batu untuk memberikan bantuan lemparan batu dari mulut gua bila ada binatang buas yang menyerang saya sewaktu saya turun gua untuk mengumpulkan ranting, daun kering serta mengupas kulit pohon dan mencari daun lebar (keladi atau daun pisang dan sejenisnya) serta mencari batu pipih. Bahan sudah terkumpul dan dibawa naik ke gua. Kulit pohon yg masih basah (segar) dipukul-pukul dg batu agar dapat seratnya untuk dipilin dijadikan tambang besar (buat tangga tali pengganti tangga kayu) dan tambang halus (buat busur panah dan busur pembuat api) pembuatan tali bisa melibatkan anak istri, prioritas dibuat dulu adalah tambang buat busur dan anak panahnya. Panah selesai dibuat, saya segera berburu kelelawar sedangkan istri membuat tungku perapian dari batu pipih dan anak-anak menampung air menetes dari stalaktit gua dengan daun keladi…. akhirnya makan malam telah tersedia dengan menu sate kelelawar.
    Untuk sementara lega rasanya berhasil mengamankan keluarga dari ancaman serangan binatang buas/berbisa dan mengamankan dari ancaman kematian karena kehausan dan kelaparan serta mengamankan dari gangguan cuaca kepanasan dan kehujanan.
    Ah… maaf ndan… cerita ngelantur.

    • O-O

      Salam Kang Omie.
      Duuh… benar benar pucuk dicinta ulam tiba. Tulisan akang ini nyambung dengan topik tulisan diatas sebagai contoh konkrit usaha seorang ayah (pemimpin) untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarganya (rakyat) dengan pendekatan bahasan keamanan sebuah keluarga. Ini cocok buat cerpen atau novel bila dilengkapi dengan kalimat percakapan ditambahi bumbu intrik-intrik beda pendapat antar anak dalam keluarga…. wuiihh… siiip kang.
      Ditunggu kelanjutannya kang Omie.
      Salam Kang Wager, Kang Senyum, Kang Lesung, Kang Nur, Cak JS, Ning Dewi.

      • dewi

        @ Komandan and All,

        bicara ‘aman’ jangan lupakan pula faktor ‘nyaman’😀 …

        dulu waktu saya masih kecil ada saudara yang punya hajat khitanan di desa. seingat saya suasananya sangat guyup, speaker di hidupkan keras-keras, maklum di kampung hanya itu hiburannya, tak lupa pemandangan bapak-bapak dan mas-mas yang main judi/ gaple/ kartu sambil mendengarkan lagu… suasana di kota santri… asyik menyenangkan hati… dari loud speaker itu:mrgreen: … he he he…

        anyway buzzway, banyak negara yang tidak sama satu lainnya dalam ‘mempresentasikan’ rasa aman itu, ada suatu negara misal, melarang wanitanya keluar rumah tanpa di temani kerabatnya demi keamanan, sementara di bagian negara lain, pelarangan ini sangat membuat tidak nyaman para wanita, seharusnya aparatur negara giat memerangi kriminalitas, bukan malah memerangi wanitanya🙂 …

        ya kira-kira begitu Ndan, hanya contoh kecil saja, bahwa terkadang kebijakan satu orang/ kelompok belum tentu bagus untuk semua pihak, terutama yang diminoritaskan hak suaranya.

        maturnuwun, monggo di lanjut Ndan🙂 …

      • O-O

        Betul ning… sesuai dongbud.. eh sosbud:mrgreen:

  10. omie

    Salam ndan, ah.. cerita impen-impenen abal-abal kok ndan.
    Kelanjutannya… sayangnya lompat-lompat seperti penggalan-penggalan babak / scane yg tidak runtut…. seperti misalnya melatih anak-anak agar mahir memanah,,, terus scane membuat jebakan untuk ikan (bubu/wuwu) dan binatang yang agak besar dan jebakan dibawah mulut gua serta membuat tumpukan batu (sebesar kepala orang) dimulut lubang gua sebagai sarana pertahanan dan membuat senjata (panah panjang/long bow) agar jauh jangkauannya. hhhh… cuma segitu ndan.

  11. omie

    Salam kang Senyum, komendan, simbah Wagerrrr, JDD.😆 ah.. ngimpi abal-abal tapi terbayang-bayang….🙄 mungkinkah ini kondisi saya sekeluarga di zaman doeloe ? http://news.nationalgeographic.com/news/2008/11/081117-stone-age-family.html

    • senyum

      Salam kang Omie, ndan dan sedulur..
      Kalau dipikir pikir… hmmm lucu yah hidup ini… orang mimpi kok ada ada saja… modelnya macam macam… di link tersebut kok posisi tidurnya pada tidur “kruntelan” mungkin biar mimpinya sama semua kali ya? ada ada saja kang.. 🙂

      • o-o

        Salam Kang Senyum, Kang Omie, Kang Wager, Kang Nur dan semuanya.
        Tautan yg dikirim Kang Omie adalah rekonstruksi posisi jenazah sebuah keluarga (bapak, ibu dan 2 anak) dari sebuah kuburan tua berusia 4.600 th yll (era Neoliticum/ jaman batu baru) di Jerman. Keluarga tersebut adalah petani (era awal pertanian di jaman batu/ kelompok masyarakat yang lebih maju) yang menjadi korban pembantaian dari kelompok lain yg masih liar (kelompok matapencaharian sebagai pemburu).
        http://www.pnas.org/content/105/47/18226.long
        http://eja.sagepub.com/content/9/2-3/259.abstract?ijkey=34b96c6290d2ca955b18d5a1ec9211d6edd4784a&keytype2=tf_ipsecsha
        Hmm…. mungkinkan Kang Omie reinkarnasi dari mereka atau jiwa mereka yang tidak tenang nyamperin Kang Omie?
        Tentang posisi penguburan… mungkin itu posisi sesuai kepercayaan/ ritual jaman tersebut yaitu posisi meringkuk-miring (meniru posisi bayi dalam kandungan). Jenazah anak yg lebih besar berhadapan-hadapan dengan jenazah bapaknya dan anak yg kecil berhadapan dengan ibunya. Hhhh… sebuah kejadian yang tragis.

  12. omie

    Salam ndan, kang Senyum, kang Nur, simbah.
    Wiihh… tepat ndan… kiriman tautan dari national geographic itu hasil pencarian google karena rasa penasaran mimpi nganeh-anehi.
    Para ahli arkeologi berpendapat bahwa massa pembunuh kembali ke lokasi pembantaian untuk menguburkannya. Motif pembantaian bermacam macam yaitu konflik antar clan keluarga, kecemburuan sosial antara kaum pendatang dengan penduduk setempat, acara ritual (korban) adat setempat. Tetapi menurut saya, orang/massa yang mengubur jenazah keluarga tersebut bukan pembunuh korban tetapi kerabat/saudara/clan korban yang terlambat datang ke lokasi pembantaian karena posisi jenazah ditaruh diatas tumpukan bunga dan posisinya sesuai adat saat itu.
    Terimakasih ndan.

    • senyum

      Salam komendan, kang Omie, kang Nur, simbah lan sedulur
      Wah wahh informasi yang menarik tentang mimpi.. korban para pendatang yang dimakamkan berkelompok oleh penduduk setempat dengan motif pembantaian…sebab perbedaan kultur saat itu atau yang lain… sungguh sangat memilukan ceritanya.. memang itulah sejarah.. apalagi ditemukan dengan usia kuburan massal sudah berusia 4600 th menarik sekali…
      Trims infonya..

      • senyum

        Kang Omie, Kang Nur, Komendan, Kang Wagerr lan sedulur
        Pembelajaran itu walau dari akademis juga mimpi… adalah suatu upaya dan yang harus dicermati juga didukung… semoga semua menjadi lebih baik…
        matur suwun

      • O-O

        Salam Kang Senyum, Kang Omie, Kang Wager, Kang Nur, Cak Js and all.
        Betul Kang Senyum, rencana tulisan Kang Omie ini saya buat tersendiri…. atau ditaruh diatas… masih dipertimbangkan…. mungkin perlu dibuat sub judul dari tulisan diatas.
        Tulisan tsb sedang diedit dan ditambahi gambar agar tak membosankan.
        Nuwun.

      • Ini ceritanya lagi ancang2 mau nyembur artikel baru lagi Kang?

      • O-O

        Hehehe… betul kang, sedang disusun… artikel ini sebenarnya bagian dari tulisan di topik ini tetapi dibahas serial, seri 1: Perlindungan Jiwa Rakyat/Pengamanan Jiwa Rakyat…. dst.

  13. Iseng2 lihat trafik kloso, bulan lalu kayak borobudur, sekarang kayak candi kalasan, berharap dengan munculnya artikel baru trafiknya jadi mirip prambanan.

    Duh, kangen dengan masa keemasan dulu saat pengunjung membludak mencapai 3000an. Mudah2an nanti kembali terulang lagi……

  14. omie

    Salam ndan, Simbah.❓ trafik kloso seperti borobudur➡ kalasan➡ prambanan❓🙄
    Pengunjung dulu sampai 3000… woohh….. huebat. Bagaimana sekarang ndan?

    • Kang Omie, kalau ditulis dengan grafik bar yang mirip balok kayu, maka akan tampak seperti candi.

      Dari kecil ke besar terus stabil untuk jangka lama dan turun di akhir, nah itu namanya borobudur. Kalau angkanya kecil lalu melonjak kemudian turun lagi, nah itu namanya grafik prambanan. Ah, ini hanyalah istilah abal2 saya saja.

      Ya, dulu sampai 3000an per hari, Sekarang tidak sampai 1/5 nya, jadi sebetulnya sami mawon dengan dongbud, alias masih tergolong kelompok blog kecil. Bedanya disini adem, disebalah rusuh. Tapi hampir semua blog memang kayak gini, mati suri. Hanya blog tertentu saja yang bisa eksis.

      Maaf, Kang OO, karena buka rahasia dapur. Maksudnya sih siapa tahu ada masukan dari Kang Omie atau rekan lain.

      Hari gini masih baca blog? Kebanyakan orang sekarang lebih tertarik ke Facebook. Pasang avatar cantik dan nulis status satu kata “Hai…” maka komentar bisa ratusan……

      Diblog, nulis susah, yang komentar juga susah. Apanya yang mau dikomentari? Ngerti aja ndak? Nah, kalau di FB kagak perlu banyak mikir. Nulis status harus sesingkat mungkin atau cukup copy link. Kalau panjang yang baca malah jadi sinting dan kelelahan……

      • omie

        Oooo…😀 begitu ya mbah, maturnuwun atas penjelasan simbah.
        Ini dari pengalaman pribadi lho… Hal yang paling mendasari kunjungan ulang seseorang pada situs web adalah keingin-tahuan.

        1. Ingin tahu hal/ topik yang sedang menjadi perhatiannya. Pengunjung tipe ini datang pertama kali hampir pasti banyak membuka halaman di situs tersebut, hari berikutnya dia akan kembali kalau dia masih belum selesai keingin-tahuannya. Setelah tahu topik yang dicarinya maka dia tidak kembali lagi. Klosobedah kelihatannya termasuk web yang mengambil pangsa pasar ini (entah sengaja atau tidak), sehingga di awal web buka akan banjir pengunjung yang selanjutnya akan menipis pengunjungnya. Hehe… maaf ndan.

        2. Ingin tahu perkembangan atau hal/topik yang diminatinya. Pengunjung tipe ini sesekali akan menengok halaman depan saja dan membuka topik terbaru saja. Apabila tak ada topik baru maka tidak akan membuka / masuk ke halaman yang lain (karena dia sudah pernah membuka/ membacanya). Web yang mengambil pangsa pasar ini adalah web ilmiah atau universitas, dll.

        3. Ingin tahu pendapat komentar terbaru atau melihat respon dari para pengunjung tetap / komunitas web tersebut atas perkembangan / issue terbaru, atau melihat respon pengunjung maupun pengasuh blog atas komentar yang dia berikan. Tipe pengunjung yang ini terutama akan mengikuti / klik kolom komentar terbaru. Web yang ini adalah berdasarkan komunitas, misalnya Alang-alang Kumitir, Sabdolangit, Sabdadewi, Akigendengbanget, dll.

        4. Ingin tahu hal/peristiwa atau berita terbaru. Pengunjung tipe ini adalah pengunjung umum (tidak terkait topik baik/buruk) dan hanya membaca sekilas berita yang ada. Web yang mengambil pangsa pasar ini adalah web berita seperti Detik, Kompas, Viva dll.

        Maaf… ndan, Simbah…. barangkali pendapat/ pengalaman pribadi ini dapat dijadikan bahan pertimbangan mengelola blog.

  15. Terima kasih Kang Omie, masukan yang sangat bagus. Blog Kloso ini awalnya dibuat hanya sekedar sebagai file pribadi saja. Ada yang berkunjung ya syukur……Ndak masalah kecil asal damai aja.

  16. o-o

    Salam Kang Wager, Kang Omie, Kang Nur, Kang Lesung, Ning Dewi dan pro akang semua.
    Tak apa kok Kang Wager, dapur ini kan juga akang punya.
    Kang Omie, tepat analisis akang…. klosobedah pernah melejit tinggi saat masih baru buka sampai peringkat dibawah 1 jt web sedunia, tetapi selanjutnya menurun. Mungkin ini karena sering on-off on-off sehingga tautan jadi hilang/ tidak akurat atau kode 404, hal ini menurunkan kredibilitas web.
    Betul kata Simbah, saya tak konsen pada jumlah pengunjung maupun rating…. toh tak ada yang saya jual atau beli karena ini web gratisan…. so isinya juga gratis.
    Memang benar, isi topik merupakan pendapat pribadi dan tidak terkait dengan institusi maupun golongan/ partai tertentu, meskipun begitu… saya usahakan ada rujukan yang kredibel.
    Terima Kasih.

  17. dewi

    selamat pagi komandan, thanks atas kunjungannya :)…

    turut berduka dan berharu biru tentang ‘feeling’ masa lalu keadaan kang Omie…. yang mungkin saja pernah hidup di jaman batu dan kebetulan mengalami perputara unfortune destiny😦 ….

    apa perlu di tanyakan pada cenayang terlebih dahulu?… biasanya urat memory itu seperti aliran kabel pararel… ia akan tetep tersimpan dalam sanubari… hingga mungkin ia bisa memahami dan memaafkan kejadian di masa lalu?…

    aneh dan seperti mistery ya, konon orang yang mati itu akan kembali kepada yang menciptakan, tetapi sepertinya the soul punya journeynya sendiri-sendiri… dalam hal ini seperti timbal balik hidup dan kehidupan @ kata mbah Budha, makes sense juga ya.

    tetapi bagaimana dengan nasib yang seperti keluarga di jaman batu tsb?… saya sudah melihat gambar dan beritanya, tapi kalau memang ada pembunuhan seharusnya di temukan bukti tulang memar/ remuk dsb akibat penganiayaan?… saya hanya menduga, mungkin keluarga tsb meninggal kelaparan karena nggak bisa survive dengan cuaca di lingkungan baru?…

  18. nyengir

    loh loh kok gak masuk masuk nih… tok tok tok kulonuwun… qiqiqiqi

    • nyengir

      Salam kakang kakang semua yang terkasih,
      Bukti sejarah masa lalu itu memang kaya akan paket cerita, ada suka ada duka, kehidupan yang memilukan, kematian yang mengenaskan, kehilangan yang menyedihkan akibat bencana alam jug bisa karena keserakahan manusia,
      Sejarah adalah kehidupan yang sudah hilang musnah dan tak perlu disesali dan sejarah itu hanya menjadi pembelajaran dan sebagai MODAL di masa depan.. Paket cerita mengharu biru yang tragis suatu keluarga dalam kedukaan tidaklah menjadi halangan untuk tetap menjadi lebih baik… Insya Allah…

      Insya Allah semua akan kembali utuh lagi tak ada aral melintang… yang tercerai berai.. yang dulunya tak terkumpul terhinakan dinistakan dan … akan disatukan lagi dalam keikhlasan dan kepasrahan hidup… berkumpul dan terhimpun kembali dalam KEBERKAHAN HIDUP… dalam cerita sejarah baru yang indah tak ternoda lagi oleh ketamakan dan ketidakadilan manusia.

    • dewi

      iya maksut saya, posisi tidur mereka yang seperti angler/ pulas, jadi terlalu dini kalau di spekulasikan bahwa mereka korban pembunuhan.

      satu kali saya pernah lihat wajah mummi fir`aun di televisi, wajah beliau sangat ayem, tersenyum dan sejuk, berbeda sekali dengan apa yang propagandakan selama ini, bahwa ia kejam, lalim, tirani dsb.

      jangan2 mereka membuat cerita mitos menfitnah fir`aun, jangan2 fir`aun itu justru orang sebaliknya, raja yang baik dan makmur, hanya karena fir`aun nggak mau mengakui allah ciptaan/karangan nabi musa, bukan berarti fir`aun nggak percaya Tuhan, tetapi ia di fitnah seolah2 orang tamak, diktaktor, otoriter dsb.

      tetapi sy setuju bahwa kebenaran akan selalu bersemayam di sanubari, dan kebohongan akan terungkap, jika ia sengaja di kaburkan, maka sampai kapanpun kita bisa melihat aura energinya yang selalu teraniaya, terkuyo-kuyo pada umat generasinya yang tidak bisa membedakannya.

      • O-O

        Salam Ning Dewi, Kang Nyengir, Kang Omie, Kang Wager dan semuanya.
        Salut ning Dewi, perasaan halus yg sangat peka sehingga nyambungrasa terhadap kang Omie.
        Sama ning Dewi, awalnya saya mengira juga begitu… tetapi akhirnya dapat rujukan sahih dari para ahli antropologi di http://www.pnas.org/content/105/47/18226.full.pdf+html
        >”Two of the graves contained four individuals: grave 99 contained a female (35–50 years), a male (40–60 years), and two children of 4 to 5 and 8 to 9 years; grave 98 contained a female (30–38 years) and three children of 0.5 to 1, 4 to 5, and 7 to 9 years of age. Grave 93 held three bodies: a male (25–40 years) and two children of 4 to 5 and 5 to 6 years of age. Grave 90 contained the remains of two people: a female of 25 to 35 years and a child of 4 to 5 years of age at death. …..”

        “The most prominent example features a stone projectile point embedded in a vertebra of individual 5 (grave 90)(Fig. 4) and skull fractures in individual 7 (grave 98) (Fig. S4) and individual 4 (grave 99, not shown). Among the observed traumatic lesions are defense injuries, such as those of the forearm and the metacarpals on males from grave 93 and 99, whereas others represent lethal perimortem cranial and postcranial injuries. The occurence of both types is a strong indicator of lethal aggression.”
        Nuwun.

      • dewi

        pagi komandan,

        terima kasih info hasil lab genetiknya, saya salut dengan warganya yg dengan telaten meneliti kerangka purba tsb.

        kerangka ke 4 anggota keluarga tsb, mengingatkan saya pada peristiwa di tanah air yg belum lama berlalu, masih segar dalam ingatan kita berita seluruh anggota keluarga miskin di temukan meninggal dengan posisi tidur di kasur saling berderetan : bapak, anak laki2 umur 6 th an dan ibu yang sedang hamil tua. peristiwa ini begitu menggegerkan warga sekaligus menampar masyarakat kita, karena setelah diteliti, kesemua anggota keluarga tsb meninggal karena kekurangan nutrisi atau kelaparan karena tak makan berhari-hari sebelumnya….

        saya mungkin berpikir secara sederhana atau berpraduga tak bersalah terlebih dahulu, nasib anggota keluarga diatas, yg notebenenya terjadi di jaman modern ini, maka mungkin saja bisa menimpa keluarga yg hidup di jaman es itu.

        bedanya, keluarga di atas di temukan warga sehingga ada yg bisa mengurus jenazahnya dengan di makamkan. tapi kalau keluarga di jaman es tsb bisa jadi mungkin tinggal di hutan, yg jauh dari tetangga, tidak dapat tertolong dsb, lalu bertahun2 kemudian ada bencana entah longsor dsb dan mengubur kerangka mereka secara otomatis, hingga ribuan th sekarang baru di temukan oleh warga modern.

        pertanyaan jelinya yg sederhana: jika misal ada korban yg di sebabkan bencana alam, seperti tertimbun batu atau tanah dll, tidakkah tulang mereka juga akan memar, rusak dan patah?…

        tentu saja kondisinya beda dengan korban bunuh diri atau di sengaja di bunuh dirikan, terlebih mati karena menelan racun atau di racuni.

        kembali ke genetik purba/ tulang di jaman es yg terjadi ribuan th silam, mungkin bagusnya rujukan itu seperti halnya penemuan, maka mungkin akan selalu di temukan ‘riset’ penelitian yang terbaru dan lebih kompeten lagi.

      • O-O

        Selamat malam Ning Dewi… betul banget dugaan ning Dewi (praduga tak ada yang bersalah) sampai memang ada bukti sahih tentang adanya kesalahan, itu cara berpikir yang positip. Memang berbeda prinsip dengan para saudara yang berada pada posisi penjaga keamanan yaitu praduga bersalah sampai terbukti ketidak-bersalahannya, sama metodenya pada penyidikan kasus korupsi… yaitu pembuktian terbalik.
        Salam pada semua para sahabat dan saudara.

      • dewi

        waah, kalau kasus korupsi itu lain, nggak perlu tes genetik tapi trik… he he he…

        halah Ndan, aku cuma nggedabrusdotcom, mung omyangan wae, oh andai aku bisa sekolah ke perguruan tinggi… xixixixi…

  19. SUARA

    Harta karun NKRI
    HARTA KARUn bung karno
    Harta karun yaitu :
    Kelola sumber daya alam oleh untuk negeri sendiri
    100 percent oleh untuk Indonesia, PASAL 33 UUD 1945

    Gimana brother n sister..?
    Agree kah….

  20. omie

    Salam komendan, simbah dan para kerabat.
    Setelah menyimak debat capres semalam yg amat singkat waktunya untuk mengungkapkan semua problematika dan cara mengatasinya tetapi meski demikian singkat membuat saya mencari hal yg lebih lengkap tentang visi dan misi capres. Akhirnya ketemu, betul-betul luar biasa capres yg ini… sangat jelas dan gamblang apa programnya.

Bila Berkenan, Mohon Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s