Dilematik Sang Komandan.

Buah Karya: id. Senyum. Judul & editor: O-O.

legiun A & B

Tulisan ini dikirimkan pada kolom komentar di

https://leadershipprincipal.wordpress.com/2014/02/24/dilematik-sang-prajurit/comment-page-1/#comment-3324

Salam Para Saudara semua.


Teringat sebuah cerita tentang 2 kerajaan yang berselisih.

Kerajaan (manusia) A mempunyai senjata senter (penerang jalan langkah kaki kehidupan) dan kerajaan (manusia) B punya senjata kaca pembesar ( memberikan detail suatu jalan kehidupan).

Sumber energi kedua kerajaan (manusia) sama yakni menggunakan TERANG CAHAYA.

Operator/ komandan kerajaan A dan B adalah 2 manusia yang berbeda, masing2 punya visi-misi yang tidak sama… nah itulah uniknyaakhirnya memang harus diselesaikan.

diskusi perundingan

Penyelesaian pertama secara perdamaian dan yang kedua bisa damai bisa perang atau hermaprodit sewaktu2 bisa damai atau perang atau digantungdan yang ketiga adalah perang.

Perdamaian bisa tercapai dan langgeng bila kedua operator tersebut dalam menyelesaikan perselisihan dilandasi oleh sifat-sifat hati pikiran dan tindakannya yang bener- jujur- lurus- adil dst, tak-ada maksud tersembunyi dibalik perundingan itu tak-ada rasa syirik curiga dll pada saat terjadi perundingan satu meja
Bila dalam perundingan itu hati pikiran tindakan tidak sejalan (tidak jujur dll itu) maka perundingan itu akan sia2 belaka dan tentu di kemudian hari akan menjadi perselisihan lagi dan bisa menjadi PERANG kembali

Negara A bisa menggunakan senternya untuk senjata bila senternya itu misalnya digebukin ke operator B, dan sebaliknya negara B akan menggunakan kaca pembesarnya dengan cara memfokuskan cahaya menjadi kulit kebakar pada operator negara A.

Visi misi tiap manusia walau berbeda namun seharusnya tetap satu jua, seperti bhinneka tunggal ika, tan hana dhamma mangrwa… kira kira begitu… memang hidup akan selalu berbeda… warna dan terang cahayanyapun berbeda…

Operator pencahayaan harus tahu ilmu untuk saling berbagi warna cahaya
Konstruksi senter atau lampu sorot panggung yang dipakai dalam pencahayaan itu seperti diketahui membutuhkan lensa untuk mengarahkan terang cahaya menjadi lebih terfokus dan terangsesuai kebutuhan
Senter juga dipakai di flashlight kamera… flashlight kamera memberikan pencahayaan yang tepat sesuai dengan rana atau bukaan cahaya kamera yang dibutuhkan

Nah bila tiap manusia operator penerangan lampu sorot itu mampu memainkan pencahayaan yang mampu bermain dengan hati tenang senang mau berbagi cahaya dan mengharmoniskan warna cahaya itu, maka akan menjadikan panggung pagelaran drama ataus imfoni musik kehidupan di kloso bedah kehidupan menjadi lebih semarak bukan?

Nah mengenai kaca pembesar itu pada prinsipnya adalah LENSA yang dibuat dengan fungsi yang sangat banyak, seperti alat pembesar untuk membaca tulisan lebih detail, juga dipakai pada mikroskop, kamera, flashlight, spion kendaraan bermotor dlsb

Jadi walau SENTER dan KACA PEMBESAR itu berbeda namun bila difungsikan SATU PAKET oleh operator2 yang baik benar lurus dan tidak punya intrik sesama operator dan punya kerja sama yang apik, maka kedua alat bantu kehidupan manusia itu akan menghasilkan alat yang dikatakan bekerja dengan baik.
Paket alat tersebut bila diterjemahkan dari sisi kemanusiaan, bahwa dengan kerjasama yang apik itu akan menjadikan manusia lebih RAHARJO atau SEJAHTERA berbagi kasih sesama manusia (tata titi tentrem kerta raharjo)…

Namun bila di sisi lain, dalam satu paket kehidupan manusia terjadi kondisi yang berbeda itu di jalani dan saling menyalahkan dan selalu berlawanan seperti Intrik atau ketidak-percayaan atau disharmoni atau menang sendiri atau serakah dlsbatau kata lain tetap ingin MENGEKSPLOITASI NAFSU yang MERASA BERHAK dan PALING BENAR maka selanjutnya manusia akan menghadapi LEDAKAN MUSIBAH atau PERANG itu…

Nah dalam paket kehidupan ini memang manusia bebas berkehendak dan memilih, tinggal pilih mana yang disukai SEJAHTERA BERSAMA atau PERANG SESAMA… kira-kira begitu.

Catatan Tambahan dari penulis.

Mengatur TERANG CAHAYA itu sungguh tidak mudah dan melelahkan bisa berabad lamanya
Dan
biasanya walau ada perjanjian perdamaian, namun seperti biasanya kalau ditelusuri maka ujung ujungnya perang juga
TERANG CAHAYA
yang bersumber dari alam seperti TERANG CAHAYA MATAHARI tidaklah ada arti apa-apa bila dibandingkan dengan TERANG CAHAYA MATA HATI yang bersumber dari TERANG CAHAYANYA SANG MAHA PENCIPTA…
Sejarah mencatat dan membuktikan bahwa selama ini tak mungkin akan terjadi sinkronisasi atau harmonisasi didalam suatu perjanjian perdamaian yang dilakukan satu meja itu…. sebabnya adalah karena TERANG CAHAYA itu masih bersumber pada TERANG CAHAYA MATERIAL atau KEBENDAAN (hasilciptaan)

36 Komentar

Filed under Uncategorized

36 responses to “Dilematik Sang Komandan.

  1. senyum

    Terimaksih atas unggahannya komendan, tentang dilematik sang komandan… memang mengatur TERANG CAHAYA itu sungguh tidak mudah dan melelahkan bisa berabad lamanya…
    Dan biasanya walau ada perjanjian perdamaian, namun seperti biasanya kalau ditelusuri maka ujung ujungnya perang juga…
    TERANG CAHAYA yang bersumber dari alam seperti TERANG CAHAYA MATAHARI tidaklah ada arti apa-apanya bila dibandingkan TERANG CAHAYA MATA HATI yang bersumber dari TERANG CAHAYANYA SANG MAHA PENCIPTA…
    Sejarah mencatat dan membuktikan bahwa selama ini tak mungkin akan terjadi sinkronisasi atau harmonisasi di dalam suatu perjanjian perdamaian yang di lakukan satu meja itu…. sebabnya adalah karena TERANG CAHAYA itu masih bersumber pada TERANG CAHAYA MATERIAL atau KEBENDAAN (hasil ciptaan)… matur suwun pak komendan…🙂

    • O-O

      Salam Kang Senyum.
      Weeh… terimakasih tambahan keterangan yang mencerahkan… akan saya tambahkan ke atas sebagai catatan tambahan.
      Suwun.

  2. dewi

    Congratulation @ Senyum,

    good marsegood, I hope terang cahaya mata hati itu betul-betul bersumber dari cahaya nurani bukan ambevalensi dari suatu paham kebenaran yang di klaim selama ini🙂

    @ Komandan, apa judulnya ini tidak keliru?… harusnya kan ‘Dilematik Seorang Tukang Senter’😉 … xixixixixi….

    ya ya ya… kita semua masing2 mengenal dan mengalami dilema, hanya saja berada di tempat dan situasi yg berbeda yg mungkin membuat penanganan dan jalan keluarnya berbeda (?).

    dilematiknya seornag komandan atau seorang prajurit tentu saja berbeda dgn dilematiknya si inem yg seornag pelayan or pembantu…

    hmmm, baru saja kmrn habis nemenin si kakek pulang dari RS, lalu skg di usir secara halus agar segera mencari tempat baru saja, karena kalau udha tua dan sakit2an ntar terjadi apa2, rata2 orang tak mau ketempati rumahnya.

    tak habis pikir juga, tinggal di suatu tempat yg di anggap surga pun blm tentu seperti seindah kata, hampir semuanya (tak memandang suku ataupun agama) menghamba pada material, kemanusiaan hanya nomer sekian, apalagi nurani?… mungkin hanya kulit luar saja…

    duuhh, mana jadwal harus kamping ke planet bulan sudah mendekat lagi… seharian ini aja aku cari2 tempat kos sampai capek dan pucat sendiri… aduh ampun ndorooo… kalau begini kapan bisa istirahat sejenak… aku capek lahir batin… hmmmrrggh… gemeesshh aku… aku gemes sama nasibku sendiri yg selalu keponthal-ponthal sejak balita:mrgreen: … .

    nah, kalau sudha begini, terkadang aku berpikir… pertama: think positive, kedua: tetap selalu bersyukur, bahwa masih ada orang lain di luar sana yg mungkin nasibnya lebih menderita dari aku, jadi alangkah manjanya diriku jika aku selalu mengeluh, ketiga: yakin bahwa Tuhan selalu mengawasi. keempat: mencoba berpikir seperti seorang… Budha😀 …

    Budha said : selalu ada alasannya mengapa kita ada di dunia… “Why we are here?”… and “Why We were in this situation?”… maka dari itu tetaplah tenang dan tersenyumlah🙂 …

    monggo silahkan dilanjut…. @ Poro Pinisepuh…

    maturnuwun,

    dewi

    • O-O

      Waaoooo… a good psychological defence, congrat to you… ning Dewi.
      Tentang Judul…. hmm… awalnya penyelesaian konflik tetapi berhubung sampai akhir cerita …. ternyata penyelesaiannya terserah masing-masing para memimpin (individu/ institusi) dan ini adalah problema para pemimpin tersebut untuk mengambil keputusan. So… akhirnya judul yang pas adalah dilematik pemimpin/ komandan. hehehe… dipas-paske.
      Btw… keep smile ning Dewi.

    • js

      Salam Mas ABR….semoga sehat selalu….

      JDD…salam rahayu…

      Begitulah hidup , banyak cerita dan rasa…..banyak hal yang tidak dan belum kita ketahui apa sebab dan kenapa terjadi dalam kehidupan diri kita…….

      Diri kita punya cerita , alam juga mempunyai cerita dan tentunya Tuhan yang kita sembah juga mempunyai cerita , semua itu ditujukan untuk kita dan tentunya ada tujuan dan hasil akhirnya….

      Percayalah bahwa alam dan Tuhan itu adil dan diri kita diwajibkan untuk menjawab dan membuktikan keadilan dan kasih serta sayang NYA….

      Memang tidak sangat gampang atau memang sangat sulit dan berat untuk berjalan diatas yang berkelok , naik dan turun dengan tajam , banyak kerikil tajam serta udara panas , hanya manusia yang ikhlas , tabah dan semangat hidup tinggi dan tidak berprasangka buruk kepada Tuhan yang mampu menempuh perjalanan panjang ini….

      Mungkin derita kita tidak berarti apa apa bila dibandingkan dengan derita Budha….begitulah manusia bila sudah menemukan jati dirinya , manusia yang menghormati hidup dirinya , alam dan mahluk lain , manusia yang selalu berpuja puji sukur dalam derita hidup , menebar kasih dan sayang , merekalah yang pasti menemukan jawaban dan mengerti maksud ” Takdir “….

      Doa kami , semoga JDD masih dan selalu tegar , semangat dan sehat…perjalanan kadang berhenti sementara lalu meneruskan lagi dan semoga bisa sampai ditempat yang damai dan bahagia sejahtera , ditempat yang sudah dijanjikan Tuhan kepada manusia yang mampu dan melakukan apa apa yang sudah Tuhan katakan , sebagai manusia yang berhati bersih dan berjalan diatas kebenaran dan bernurani……

      Mohon maaf kepada Poro pinter dan poro Sepuh…..

      Hal diatas hanyalah tulisan yag sebenarnya saya sendiri belum dan tidak mampu melakukan , mohon maaf bila salah dan kurang berkenan……Nuwun…

      • O-O

        Amin…. Semoga cak Js juga sehat selalu.
        Salam Cak JS, Ning Dewi.

      • dewi

        @ Paman Senyum, JS, O-O, Nurkahuripan,

        Maturnuwun attensinya, dan juga tulisannya yang mencarahkan tentang Budha dan cahaya terang…

        ready or not ready, like or not like, to be or not to be, life must go on🙂

        Terima kasih atas doa dan dukungan dari semua rekan-rekan, saya sudah dapat tempat yang baru serta kemudahan2 dari yang lainnya, sedikit banyak, banyak yang welas asih, walaupun bantuan tidak selalu berupa materi. namun simpathi, pertemanan dan doa yang tulus itu sudha cukup bagi saya untuk bisa me-recharge kembali spirit jiwa agar tetap optimis dan selalu semangat menghadapi hari-hari kedepan🙂 …

        Matursembah nuwun,

        Dewi

      • O-O

        Salam Ning Dewi….. syukurlah, semangat Srikandi Nusantara telah kembali pulih.

  3. Salam komandan,kang js,mbakyu,kang senyum,all @
    numpang menyimak,.

  4. Duh, judulnya benaran nyambung dengan artikel sebelumnya. Editing dengan tambahan ilustrasi gambar yang menarik.

    • O-O

      Hehehe…. Terimakasih Kang Wager…. dan acungan jempol buat Kang Senyum.
      Eehh… mana nih Kang Omie…. katanya mau ikut nyumbang tulisan…. hehehe… sabarmenunggudotcom.

  5. Salam komandan,simbah,mbakyu,all @
    seorang pimpinan/komandan,wajib memiliki sifat abu2..mgkn satu sisi abu2 itu munafik,tp satu sisi lagi adlh mutlak…
    Karna sifat mutlak trsbt tdk akan mnghilangkan “keberadaan” orang lain,.walau orang trsbt jelas salah dan tak berguna secara sudut pandang…
    Nah,.dilema itu terjadi ketika seorang komandan,sedang berusaha menyadarkan/menyamakan intuisinya,.apalagi ktika dia tahu segalanya tentang orang2 yg dipimpinnya…waduh,…..
    Setahu saya,seorang komandan(bukan kang 0-0)/seorg pemimpin-lah…seringkali dihinggapi sifat malas…malas dalam arti,malas mengkaji dirinya sendiri..

    Monggo diluruskan ndan(ini baru kang 0-0),.

    Rahayu..

  6. senyum

    Sedulur,
    Komandan itu mesti pinter baca peta, makanya perlu loop juga senter… peta lokasi dijembreng saat malam di tempat gelap gulita atau remang2, saat itu komandan memimpin berhitung strategi bermain catur… ngitung kekuatan diri, teman atau lawan atau penduduk, kondisi dan prediksi alam lingkungan dll… untuk bertahan atau menyerang atau disaat damai bagaimana menyelamatkan penduduk atau rakyat dari bencana alam sesuai rencana awal dan tindakan plan A B C dan bila terjadi peristiwa tak terduga maka tindakannya plan ABC spt apa.. dan tentu komandan harus mampu bernegosiasi menerima pendapat dengan lawanbicara bukan menggurui saja atau instruksi saja (satu arah)… dst dst… hehe bukan begitu ceritanya tugas komandan ya? tapi wah telalu rumit mikirnya ahh… mending mikir PENCITRAAN saja deh bagaimana kepentingan diri dan golongan kelompok ini promosinya suaranya laku dibeli rakyat yang hanya dibutuhkan suaranya namun sejahteranya nomor kapan kapan… gampang sekali… peace deh ah hihihi

    • omie

      Wakkkk……. maaf kang Senyum, saya baru tahu dan baca komen diatas.
      ehem… sependapat kang…. memprihatinkan karena kebanyakan bangsa kita mudah dipengaruhi oleh tampilan/ pencitraan dan sangat sedikit yg mendalami sifat/sikap dibalik pencitraan.

  7. senyum

    Ngapunten terlintas saja di kepala…
    Oh senter oh suryakonto…

    Bentuk NKRI 1-6 (banyak sistem pemerintahan)
    NKRI dan RIS

    Presiden + Wakil Presiden
    MPR
    DPR
    DPRD
    Provinsi
    Kabupaten
    Kotamadya
    ———————————-
    Otonomi Daerah DPD (daerah khusus) = RIS? = Perdana Menteri + Wakil Perdana Menteri ?
    ———————————
    Presiden + Wakil Presiden NKRI (Pemenang Pilpres) membawahi
    Perdana Menteri + Wakil Perdana Menteri (Kalah Pilpres)

    Mungkinkah? hanya kontemplasi teori A atau B
    atau B himpunan bagian dari A… menurut perhitungan sederhana matematika🙂

    Matursuwun

    • senyum

      Apakah mungkin… bila para Menko dan Menteri bertanggung jawab ke RI1-2, dan para gubernur bupati walikota kades dst daerah OTODA bertanggung jawab pada Perdana Menteri1-2? Perdana menteri berkoordinasi dengan Menko… ataukah ada cara lainnya ya? hihihi… ruwet….🙂

    • omie

      eh.. pendapat ini juga ….. sama.
      Otoda sebenarnya sama dg RIS…. cuma terselubung.

    • senyum

      Sip kang Omie,
      nah ini yang paling fresh from the oven… dari jaman RI1-6… seperti Keraton atau Kesultanan itu seperti ditiadakan keberadaannya… awal dari Indonesia adalah Kerajaan maka untuk menjadikan lebih BERSATU ada baiknya para raja diberikan penghormatan… misalnya sebagai SIMBOL NUSANTARA…. maksudnya diatas dari RI1-2 ada lagi yang dinamakan RAJA (pemegang simbol dan kas harta kerajaan)… Raja inipun dirolling juga seluruh KERAJAAN NUSANTARA… misalnya tiap tahun sekali atau terserah perundingannya.

      Menimbang, seandainya ada namanya HARTA AMANAH dari KERAJAAN2 NUSANTARA itu saat berdirinya NKRI yang nilainya hmmm tak tau itu… ada baiknya para RAJA diberikan kehormatan… dari ACEH sampai PAPUA bergiliran menjadi penguasa simbol persatuan NUSANTARA…

      Kira kira begitu, lamunannya… maaf kang Omie kalau khayalannya TER LA LU… wkwkwkwk

    • senyum

      Nama Nusantara tentu tak lepas dari tarian dan nyanyian yang berpadu dengan alamnya.. hmmm indahnya NUSANTARA…🙂

    • senyum

      Maaf kurang sedikit tambahan khayalannya, akibat kebanyakan joget hehehe
      Ibukota NKRI tetap Jakarta
      Pusat Pemerintahan DINAMIS, misal per 5 th dst, mulai dari Papua
      Pusat Kerajaan Nusantara DINAMIS, misal per 5 th dst, mulai dari Aceh

      Dengan demikian pemerataan pembangunan dan pemerataan kesejahteraan rakyat segera terpenuhi (tata titi tentrem kertaraharjo)…🙂

  8. omie

    Wah…… mmm.. maaf kang Senyum, dana kolateral atau harta amanah… saya tidak yakin keberadaannya.
    Secara pribadi tidak berminat tentang harta peninggalan/warisan orang tua sendiri, bagi saya sudah cukup ortu berhemat menyisihkan hartanya untuk membesarkan dan membekali anak-anaknya dengan ilmu/ pendidikan agar bisa mandiri.
    Infestasi harta yg paling baik adalah membentuk anak yg berbakti pada ortu serta membuat anaknya mampu mandiri, sedangkan harta yg tersisa adalah mutlak milik ortu (tanah/rumah tempat tinggal jaman dulu) kalau perlu dijadikan museum keluarga atau biar dihabiskan buat bersenang-senang ortu dihari tuanya. Tempat tinggal baru ortu adalah hasil keringat anak anaknya yg dulu dengan susah payah dibesarkan dan dididiknya. Bahkan operasional rumah tangga (listrik, air, belanja dapur dan pembantu rumah) kami para anak-anak yg membereskannya. Hal tsb sudah terlaksana, puas rasanya bisa membelikan rumah tempat tinggal buat ortu dan mengurus segala kebutuhannya, meski itu belum setara dengan pengorbanan beliau.
    Demikian pula dengan republik ini, sebaiknya para putera bangsa ini mampu mandiri agar bisa beli tanah tempat tinggal atau tempat usaha diluar negeri… kita beli tanah di amerika, australia, inggris, perancis, belanda dll… itu artinya kita mampu dan merdeka berada disemua tempat dibumi pertiwi (bumi pertiwi bukan cuma wilayah nkri saat ini saja lho… tapi bumi bulat seutuhnya)…. Indonesia kita jadikan musium saja……. bagaimana kang?
    Setuju lamunan yg “ajegile” ini ? wakkkk.

    • omie

      Sebulan sekali atau setahun sekali kita reuni akbar keluarga bangsa indonesia di wilayah nkri saat ini, tempatnya digilir…. mulai dari aceh sampai merauke.
      Bila setuju… hayo kita mulai belajar bersaing kemampuan dengan orang di dunia internasional…. bukan di kandang sendiri…🙂

      • omie

        Putera bangsa yang patut dibanggakan diantaranya adalah simbah Wagerr yg berhasil bebas mandiri di jepang, paman Dalbo dan paman Balanedewa yg juga mampu mandiri di negri orang, saya mah… masih di kandang sendiri…. inginnya seperti beliau,

  9. senyum

    Kang Omie, kalau sih setuja setuju saja, lah wong tanah atau darata di bumi ini masih luas, kenapa tidak beli saja dartan di seluruh dunia? tentu buat kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia bersama.. misalnya dibuat daerah pertanian peternakan dlsb dan tentu juga dapat memberi kesejahteraan buat penduduk asli di tempat tanahnya dibeli itu… di Indonesia boleh dimuseumkan tapi bukan museum biasa loh, tapi museum percontohan surga dunia wkkkkk

    Giliran pertemuan di tiap kota di tiap daerah bagus kang, spt bergilirnya arisan, arisan dalam arti berbagai bersama memberikan masukan atau konsep pembangunan seutuhnya bagaimana memajukan pembangunan demi rakyat di setiap kota yang mendapat giliran itu agar lebih makmur dan menjadi sejahtera, dan bagaimana alam sekitarnya dapat terpelihara… dst dst mungkin lebih baik kang🙂

    Btw, ucapan sukses dan ikut bahagia bagi sedulur yang mampu mandiri di negeri orang, semoga jangan lupa putera/i Indonesia di manca bisa mengangkat derajat kehidupan putera/i Indonesia juga yang masih di kandang sendiri…🙂

    • omie

      Siiiipplah kang Senyum. Indonesia kita jadikan musium cagar alam dan budaya nasional. Kita bangun kembali keraton-keraton jaman dulu (mulai dari kerajaan samudra pasai, kasultanan melayu, pagaruyung, sriwijaya, pasundan, kasepuhan cirebon, pajang, mataram 1-2, demak, dhaha, singasari, kahuripan, galuh, majapahit, bedander, bali, lombok, kutai, maluku dll sampai daerah khusus tengger, badui, sampai suku terasing) lengkap dengan adat istiadat serta perangkatnya (properti dan SDM-nya mulai dari raja atau kepala suku sampai hulubalang dan prajuritnya) dilengkapi naskah skenario “lakon”nya serta waktu jam pertunjukannya. Mereka semua kita gaji dan cukupi kebutuhannya sehari-hari dan tugas mereka sebagai para pemain sandiwara berjudul “Indonesia dari jaman ke jaman”. Kita jadi event organizer dan mempromosikannya di luar negri untuk meraup para wisatawan mancanegara. Woooo…. dolar, euro, yen, golden, poundsterling dll akan masuk ke kas negara untuk menggaji para pemain pertunjukan adat budaya di dlm negri.😀

      • omie

        Tidak ketinggalan “lakon” penjajahan belanda-jepang-inggris-sekutu dan perjuangan kemerdekaan dan pertempuran mempertahankan kemerdekaan. Tidak lupa kita tayangkan sejarah hitam pemberontakan dan berbagai kudeta perebutan kekuasaan serta pembantaian rakyat yg tidak ikut terlibat dan tak ketinggalan perang/penindasan golongan minoritas SARA.
        Lakon tersebut untuk pembelajaran pada anak-anak kita maupun anak-anak seluruh dunia agar tidak terjadi pengulangan sejarah dimasa depan di muka bumi ini.

      • omie

        Maaf.. ketinggalan keterangan.
        Pembangunan kembali keraton disertai pembangunan pasar, tempat ibadah dan rumah penduduk serta kondisi jalan dengan sarana transportasinya (kuda, kereta, pedati) disesuaikan dengan jaman kerajaan tersebut berada… seperti TMII dengan skala sangat besar. Bangunan yg ada saat ini dilokasi ibukota kerajaan tersebut akan digusur dan penduduknya dipindahkan diluar kota ditempatkan di kondominium modern gratis.

      • omie

        Bikin pentas sendratari besar-besaran dg properti dan pemain yg tak kalah menggemaskan dg sendratari dari Khmer.

      • senyum

        Kang Omie
        Mantap tariannya… memang budaya di mana saja seluruh dunia… itu indah kang, patut untuk diapresiasi sebagai karya manusia yang bagus dan patut diapresiasi…🙂

  10. dewi

    sugeng sore @ Sedoyo,

    well, first of all, everything is possible in nusantara land🙂

    tapi intinya kan mengenai pembagian tugas/ amanah/ rejeki. or kalau dalam istilah ekonomi ada sharing profit, dalam istilah politik ada sharing power!

    coba kita tengok negeri Finlandia, negara kecil hanya dengan 5 jt penduduk, tapi mereka menganut 2 sistem, presiden iya perdana mentri juga iya. presiden tugasnya mengurusi negaranya, sementara perdana mentri bertugas tak ubahnya seperti public relation yang bisa keliling dunia, jadi kalau pemimpinnya lagi ada acara/ undangan ke luar negeri, dalam negri juga maish ada yang mengawasi dan nggak boleh ‘vakum’. kelebihannya memang moncer, negara kecil tapi ekonominya kuat, bahkan mengalahkan rusia yang dulu pernah menjajahnya, tapi tentu saja semua itu diimbangi dengan etos kerja keras, jujur, bersih dan anty korup.

    bandingkan di negera kita ketika presiden kita ke luar negri untuk meeting dsb, maka kevakuman hanya bisa di wakilkan oleh wakil presiden saja. kelemahannya apa dan bagaimana?… njenengan semuanya bisa menjawabnya.

    btw, iya setuju sekali kalau penduduk indonesia bia menyebar ke seluruh penjuru dunia, syukur2 bisa berprestasi dan berguna sehingga bisa membantu penduduk setempat. lha kita ini kan keturunan nusantara yang pada jaman dahulu hobinya klangenan/ jalan2 ke seluruh penjuru dunia, DNA kapal tertua itu milik nusantara jeeee….

  11. omie

    Salam Jeng Dewi, kang Senyum, simbah Wagerrr.😀😆 inginnya malam minggu ini santai di Hawai … selanjutnya berjemur di california…. eh… menghayal saja… yang jelas dilakukan menyusuri kalicideng tiap hari….. bukan kalifornia amrik…. maklum, keturunan dari nenek moyang yg seneng jalan-jalan.🙂

  12. senyum

    Sedulur sedoyo,
    Memang mau kemana saja kapan saja dimana saja… semuanya so beautiful… apabila kita bisa merasakan dengan hati jernih menikmati keindahan budaya itu… hmmm indah sekali jagat raya ini dengan berbagai variasi budayanya… kalau nonton yang satu ini… trenyuh loh kang sampai menitikkan airmata alunan musiknya…🙂

  13. omie

    Salam kang Senyum.
    Betul kang, itu kelebihan penyanyi soprano yg cocok untuk konser besar.
    Yang berikut ini juga sangat menyentuh perasaan.

    Semoga komendan kembali dengan selamat sentausa. Amiin.

  14. senyum

    Salam kang Omie, salam juga buat sedulur semua juga semoga komendan sukses selalu dalam tugas…
    Btw, koreografi siluet yang dipadu dengan berbagai bentuk atraksi tentang cinta yang menyentuh perasaan penonton.. sungguh memukau kang… keren banget… patut diacungi jempol atas idenya dan pantas diberi tepuk tangan berdiri…🙂

  15. Ronda siang sekalian absen piket jaga.

    Lapor Komandan. Padepokan aman sendosa !

Bila Berkenan, Mohon Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s