Bangsa Pelaut.

Kita adalah bangsa pelaut.

Perahu 1

Seperti simbol gambar diatas… Status Quo… jalan ditempat=tidak jalan.

Sim… salabim… abra.. kadabra… wuzzzz

Byyuuurr…. perahu bisa mulai “berlayar melaut”.

Perahu 2

Perahu mulai “berlayar”…. meski “masih dalam botol” dan jalan ditempat, tetapi… “Alam” yang akan membantunya “berlayar” hingga sampai tujuan.

Para sedulur winasis tentunya sudah paham maknanya.

Sayangnya… kemungkinan sampai ditempat tujuan hanya 5 % (by miracle)… atau dengan kata lain…

Kemungkinan sangat besar (95 %) tersesat di jalan.

Beda dengan yang seperti gambar di bawah ini.

Le Soleil Royal

Sebuah kapal layar yang besar dengan tiang layar lebih banyak, dilengkapi sarana navigasi dan lebih dari 20 laras meriam kaliber besar di lambung kapal.

Dengan sarana tersebut maka kemungkinan sangat besar bisa sampai di tujuan.

So… masihkah kita menyebut diri bangsa pelaut?.

 

Mungkin yang lebih cocok… kita adalah bangsa “penikmat”, tak perlu susah payah belajar berkarya… cukup dengan satu kata “Beli”.. kita sudah punya sarana tersebut.
Paling tidak…. miniaturnya.

Le soleil royal, miniatur

6 Komentar

Filed under Uncategorized

6 responses to “Bangsa Pelaut.

  1. Salam komandan @ sungguh ironis yah ndan..sifat maupun sikap hidup manusia indonesia sekarang…
    Apakah zaman yg membawanya,ataukah ada faktor X yg mengendalikannya..?

    • O-O

      Salam Kang Nur.
      Betul kang Nur, hal utama yang menjadi penyebab adalah:
      Faktor geografi: wilayah kita terletak di wilayah tropis sehingga apa yg kita tanam segera akan menghasilkan… tancapkan tongkat kayu (batang singkong) ke tanah.. pasti akan segera menjadi makanan. Tanah yg subur sepanjang tahun membuat kita terlena dan menurunkan semangat juang. Wilayah negara kita terdiri dari banyak lautan yang banyak menghasilkan bahan makanan, hanya dengan perahu yang sederhana saja sudah cukup untuk menuai panen ikan sehingga tak kuatir bila dirampok orang masih tetap bisa bikin lagi perahu dan masih bisa melaut. Hal ini mengakibatkan tidak ada semangat untuk membuat perahu besar/ kapal laut yang dilengkapi persenjataan untuk mempertahankan apa yang sudah kita peroleh.
      Faktor lain adalah budaya kita yang “nrimo ing pandum” sehingga tidak ada semangat untuk berjuang agar lebih baik dan mendapatkan sesuatu yang lebih besar, dan sebenarnya masih banyak faktor lainnya.
      Nuwun.
      Lebih jelasnya ada faktor yang sangat besar yang mengendalikannya, ikuti filmnya sampai selesai di https://leadershipprincipal.wordpress.com/2013/11/22/hhhhh/

  2. Salam komandan @ iya ndan,.kalau sudah bgini,sepertinya tdk ada upaya yg bnr2 bagus untuk membalikkan keadaan ini..
    Ohya,hp sy gak bisa buka videonya ndan,mohon maaf..
    Rahayu,.

    • O-O

      Salam Kang Nur.
      Duuhh… maap.. saya lupa kalau hal tsb tidak bisa pakai HP…. hmmm… nanti akan saya sarikan isi video tsb. …. Suwun infonya kang Nur.
      Tentang upaya untuk membalik keadaan…. sebenarnya ada…. tapiiii… hmmmm…..suuuaaangaaaat buuueeesuuuuaaaar resikonya terhadap keselamatan bangsa dan negara serta pribadi yang mau memperbaikinya.
      Rahardjo Lir Ing Sambekolo, Sumugi Kabegjan Sapenjangkah Kang Nur.
      Nuwun.

  3. Salam komandan 0-0 @ Hahaha, iya ndan,..mungkin memang belum waktunya,.dan esok kelak,akan ada….
    Ohya,mohon ringkasannya ndan,.

Bila Berkenan, Mohon Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s