Berantas Korupsi, Perampokan dan Pembunuhan.

korupsi menjalar 1

Ancaman hukuman apakah agar korupsi lenyap?

Ancaman hukuman mati? Potong jemari tangan?

Hukuman apa yang paling tepat?

solusi anti korupsi?
ancaman tindak kejahatan

Gambar pulau tempat pengasingan/isolasi para pelaku tindak kejahatan, dibuang di pulau terasing tanpa penghuni, tanpa rumah, cukup dibekali cangkul dan bibit jagung serta batang singkong… ransum cukup singkong kering untuk selama 3 bulan dan dibekali sebuah panci.

pencegahan pencurian, biometric
ATM identifikasi retina

42 Komentar

Filed under Uncategorized

42 responses to “Berantas Korupsi, Perampokan dan Pembunuhan.

  1. otak mie

    Salam saudara-saudara….
    Hiiiihhhh… seerreeemmm.

  2. @ ABR,

    Sugeng sore, membaca dan melihat postingan beserta poster2nya sungguh ngeri, apa jadinya jika suatu negara mempraktekkan hukuman potong tangan, pancung, eksekusi dsb… bagaimana ia mengayomi hak asasi rakyatnya jika hukumannya tidak mendidik dan tanpa welas asih?…

    Saya mungkin tak bisa bicara banyak menjelenterahkan hukuman2 tsb, namun sebaik-baiknya pemimpin adalah yang selalu eling lan waspada. kita bisa belajar dari kisah ‘Ratu Shima’ yang benar2 jujur, bersih dan disiplin… namun tatkala ia di uji oleh putranya sendiri, ia jumawah sehingga ia menggunakan dengan cara2 kekerasan untuk mendidik anak dan rakyatnya. akhirnya… iapun tersadar bahwa apa yang ia lakukan adalah kesalahan besar dan ia memperoleh karma karenanya. walaupun tujuannya baik tapi jika penerapannya tidak manusiawi, maka itu sama saja mencemari niat baiknya.

    http://sabdadewi.wordpress.com/jagad-wanodya/#comment-602

    Salam rahayu,

    Dewi

    • inggrid

      @dewi: tunggu keluargamu ada yg dibunuh orang dgn semena-mena, abis itu coba kritik kembali hukuman mati ya

      tuhan netapin hukuman mati dan hukuman potong tangan sesuai ilmu-Nya. manusia gak akan lebih berilmu daripd tuhan

      • @ Inggrid,

        Memang tuhan anda itu sosok yang seperti apa?… apakah tuhan yg menghalalkan qisas?… maka saya tak heran kalau watak anda keras dan mengeras…

        Berapa banyak hukuman mati tapi itu tak bisa menyadarkan manusianya, jerahkan mereka?… selama ribuan tahun?… apakah anda pernah berpikir untuk hari esok, yang akan datang?… jangan hanya puas hari ini saja hutang nyawa balas nyawa…

        Kepercayaan terkadang memang ada yang membutakan manusia, tapi kita bisa percaya pada hal yang mencerahkan (enlightenentment)… pikirkan sejenak jika seorang kriminal yang kejam mati di tiang gantungan lalu nyawanya berkeliaran tidak tenang, lalu jika ia di lahirkan kembali maka ia bukan tak mungkin lebih kejam lagi di kehidupan yang akan datang… karena apa?… itu karena ia tidak di beri kesempatan memperbaiki mental dan jiwanya, menebus dosa2nya, entah dengan jalan berdoa atau minimal meminta maaf kepada korbannya selama seumur hidupnya sampai ia tersadar bahwa yang ia lakukan adalah kebiadapan, untuk itu ia berjanji dalam hati untuk tidak pernah melakukannya lagi baik di kehidupan sekarang maupun nanti.

        Untuk pertanyaan di atas saya kembalikan lagi ke anda, jika seandainya itu terjadi pada keluarga anda, jika anda masih punya kedamaian dalam hati, maka anda tahu apa yang harus di perbuat.

        Salam jiwa,

        Dewi

  3. O-O

    Salam Ning Dewi.
    Terima kasih tanggapannya. Itulah repotnya membuat suatu “Undang-Undang” untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Disatu pihak (keluarga korban) menghendaki hukuman yg setimpal buat pelaku kejahatan (hukuman mati buat pembunuh yang disengaja kecuali dimaafkan oleh keluarga korban) disisi lain (pihak keluarga & pelaku pembunuhan) menghendaki hukuman yg seringan-ringannya bahkan dibebaskan bila mungkin. Untuk kerugian harta benda tentunya hukuman yg setimpal tentunya mengembalikan harta yg senilai, untuk hukuman potong tangan atau hukuman mati sebagai hukuman pelaku kejahatan harta benda memang tidak setimpal.
    Dalam gambar tertera tanda tanya.
    Nuwun.

  4. @ ABR,

    Maturnuwun, pada titik inilah institusi negara sebenarnya bisa menjadi penengah, kita semua tak suka terrorist, kita tidak mau ia berkeliaran bebas di jalanan dengan hukuman yang hanya bbrp bulan, pun tidakkah kita bisa berpikir bahwa hukuman mati itu juga terlalu ringan, karena itu sama saja memudahkan yang bersangkutan untuk lekas mati lalu bertemu dengan Tuhannya.

    Dengan di hapuskannya hukuman mati, bukan berarti para kriminal akan bebas merdeka apalagi berkeliaran, melainkan ada subtitutesnya yang lebih ketat, keras, tegas dan harus di patuhi. Di ganti dengan hukuman seumur hidup, sampai ia tutup usia di pengasingan itu juga.

    Dulu saya pernah menulis komment di blog pinisepuh, indonesia ini banyak pulau2… negara bisa membuat pulau khusus untuk tahanan kelas kakap atau kriminal tingkat satu yang tidak bisa di ampuni kejahatannya, seperti terrorist dan juga koruptor yang tak mau mengembalikan hasil jarahannya dsb. pulau tsb tak bisa bebas di jenguk, di situ juga sudah tersedia lahan untuk di tanami makanan oleh para narapidana, sekaligus tanah untuk tempat peristirahatan abadinya (makam).

    Apapun sebenarnya, manusia tidak berhak menghakimi lainnya, biarlah Tuhan yang mengambil nyawa. sebagai manusia kita tetap harus memanusiakan manusia. Ini bukan berarti kita tidak bisa empaty kepada keluarga korban, untuk keluarga korban yang berduka, pemerintah juga wajib menyantuninya, baik secara materi maupun non materi seperti bimbingan agama maupun psikolog, dsb.

    Saya tetap berpikir positive, kalau bangsa eropa, australia, filiphina dsb yang leluhurnya tak mengenal etika dan budaya, bisa menghapus hukuman mati (karena sudah tidak relevan dengan kemanusiaan), maka sebenarnya kitapun jauh lebih mampu dalam segalanya, termasuk hal kemanusiaan.

    Nuwunsewu, mungkin ini juga menyangkut kesadaran ‘spiritual’ juga, jika seorang/ institusi negara menghukum dengan cara membalas nyawa dengan nyawa maka itu masih tahap manusiawi, namun ketika kita memilih memaafkan (tetapi si pelaku tetep di penjara) itu sudah tarafnya ilahi/ devine.

    Bukankah Ratu Shima adalah contoh konkrit dari sifat kejumawahan/ kengakuhan ego manusia?… dan bukankah Ratu Shima juga sudah menyadari kekhilafannya dan lalu ia mengorbankan dirinya sendiri dengan cara moksha agar kelak generasinya tidak mengikuti jejaknya…

    Salam kasih,

    Dewi

  5. SPion

    Paduka Inggrid….

    Apa benar Tuhan telah menetapkan hukuman potong tangan kepada manusia yang mencuri dan juga hukuman mati kepada orang orang yang salah ??……wuuuih….kejem dan sadis …..ini tuhan siapa dan berasal dari daerah mana ??…..mungkin bisa diperkenalkan dengan kita semua…….

  6. SPion

    Hukuman maha berat/ mati dengan mengatasa namakan Tuhan sepertinya keluar dari kepala pemimpin yang tidak mau diganggu kedudukan dan kekuasaan nya…..ya dan ya lagi…menjaga trah dan dinasti kekuasaan leluhurnya untuk menguasai rakyat sendiri atau rakyat negeri lain……keluar dari kepala manusia yang sadis tanpa perikemanusiaan…..

    Penjara dan pengasingan ditempat yang terpencil dan terisolasi sudah lebih dari cukup untuk menghukum manusia yang sudah menyalahi hukum

  7. usul

    Salam hormat……

    Hukuman untuk KORUPTOR……MISKIN kan saja mereka…miskinkan juga kepada para keluarga yang sudah mengambil atau mendapatkan keuntungan hasil korupsi itu……

    Buang para koruptor disuatu pulau terpencil dan NKRI masih banyak pulau pulau kecil…..tapi juga diawasi dan dirawat, diberi makan normal….rumah tanpa listrik dan tanpa TV…tanpa alat komunikasi / HP …tanpa kulkas dan tetek bengek lain ….kondisikan tempat penjara itu seperti manusia hidup di jaman batu……

  8. O-O

    Selamat malam dan salam hormat.
    Mohon maap lambat merespon pendapat para sedulur semuanya, laptop ada gangguan sehingga pakai HP… agak kerepotan nulisnya.
    Terima kasih telah memberikan sumbang saran. Pada gambar diatas (pulau kecil terisolir) bisa diartikan harfiah kenyataan dan bisa pula berarti kiasan yaitu hukuman sosial (dicuekin dan dianggap tak ada, tidak dilayani dan tidak ditanggapi)…. dikucilkan.
    Nuwun.

    • Tidak apa telat merespon paklik, kadang saya juga lelet, komputer saya sejak dulu malah layar monitornya burek hingga 70%, kalau membaca mata rasanya kriyip2… kata simbah solusinya adalah membeli ayam, supaya semut2 di layar komputer bisa berkurang karena di patuki si ayam…

      • ABR

        Wakkkkk….. eh sayangnya tak ada laptop yg isinya bisa add on seperti dekstop ya…. hmmm .. atau saya yg ngga tau ya… sudah lama tak pernah beli majalah komputer dan kluyuran di mangga2.

  9. SPeaker rakyat

    Selamat pagi…….

    Tentang hukuman apa dan seberapa ringan dan beratnya …mungkin itu sudah dipasalkan dalam undang undang……dan kita yakin hal itu sangat mudah untuk menentukan berat dan ringanya hukuman….

    Permasalahan yang mendasar di NKRI ini…..siapa yang mampu dan berani untuk membuka kasus korupsi yang ternyata dilakukan oleh para pejabat tinggi ( berita di media )….dan sepertinya ada dugaan tebang pilih dalam menangani kasus korupsi atau dalam kasus yang lain……hukum sudah tidak lagi berjalan diatas rel kebenaran……sudah diselingkuhi dan sudah diperkosa oleh hamba hamba hukum itu sendiri…..para manusia munafikun , tanpa nurani , para penakut dan hanya cinta dunia….mereka yang juga layak dibuang di pulau terpencil…..biang keladi dari kekacauan dan kerusakan di NKRI ini…..

    Negeri ini memang negeri hukum , tapi dan mungkin hanya untuk rakyat kecil Mungkin juga hukum masih bisa dibeli dan bisa dipelintir lalu disediakan kambing hitamnya dan bla bla bla lain yang mengakibatkan nilai hukum sudah tidak lagi sebagai suatu nilai keadilan dan tidak lagi manusiawi…..

    Salam hormat untuk pemilik blog …..tulisan diatas hanya sebagai obat sedihnya hati rakyat bangsa ini…..Terima kasih.

  10. k l i l i p

    NKRI sepertinya semakin memerah….semakin banyak peristiwa untuk direnungkan sebelum semua itu menjadi terlambat……peristiwa bencana alam dan bencana yang lain sudah menjadi pertanda ” sesuatu ” sedang berjalan…..sesuatu itu mungkin saja hal yang tidak diketahui datang dan perginya dan sesuatu yang kami katakan sebagai ” penegur “dari langit untuk bangsa dan para pemimpinya…..

    Indonesia memang negara hukum…itu katanya dan kenyataanya tidak seperti itu …embuh ora weruh apa jadinya NKRI ini diwaktu akan datang bila dan terus saja kata kata itu hanya slogan dan “: lelamisan bibir “….

    Bila saja hal hukum dan sifat atau ajaran perilaku luhur bangsa ini sudah tervirusi dan tercemar maka Indonesia bukan lagi ” Negara Hukum ” tapi Negara yang akan ” dihukum.”… negeri yang mungkin sudah menerima sabda dan kutukan dari para manusia yang telah berjalan lurus ratusan tahun lalu…..tapi sebenarnya bukan kutukan tapi suatu pemberitahuan dan peringatan dini …..

  11. O-O

    Salam Kang Speaker Rakyat, Kang Klilip, Kang Usul, Kang Spion.
    Hhhhh…. memang memprihatinkan, sistem pengadilan diluar negri masih lebih bagus karena ada dewan juri yang memutuskan salah tidaknya tertuduh pada suatu kasus di pegadilan untuk mencegah kolusi dan nepotisme di sidang pengadilan yang juga ada disana, hakim hanya menentukan jenis dan lamanya hukuman.

    Perlu juga reformasi tatacara pengadilan di negri kita…. mencontoh negri diluar sana yang melibatkan dewan juri sehingga memperkecil kemungkinan timbulnya kolusi dan nepotisme di pengadilan.
    Salam Kang Pelayan, Kang Nur, Kang GP….. eh…masih puasa berkomentar kang?
    Nuwun.

  12. Salam komandan,poro sedulur semua @ s7 dgn kang speaker,..dinegara manapun undang2 tertulis utk seorang korupsi,memang berat….tapi,disini..apakah mampu pemerintah beserta oknum penegak hukum memberantas(atau minimal,menghukum sesuai yg tertera di undang2,tanpa pandang bulu..),.sepertinya belum mampu/tdk berani…

    Rahayu,..

    • ABR

      Hehehe…. salam kang Nur.
      Betuull kang…. dan lagi… meskipun sudah di putus masuk bui… eee… masih bisa cuti…. hhhh.

  13. @ ABR, Spion, Speaker, Nurkahuripan, Inggrid, All,

    Ngapunten kalau jadi sengit dan memanas diskusinya, sebenarnya blog ini mengusung misi yang mulia dengan motto ‘strong country need a good national character’… bicara kepemimpinan, what made a men is a leader?…

    Saya hanya mencoba menyajikan menu ‘kemanusiaan’ barangkali bisa di terima, mengingat yang kita cari adalah mental dan jiwa seorang pemimpin yang baik, jujur, punya visi dan misi yang jelas, tegas tapi juga welas asih.

    Indonesia cepat atau lambat harus lekas berbenah diri, terutama dalam bidang keadilan, ham dan hukumnya. Apa yang terjadi adalah kesenjangan kesejahteraan dan keadilan di seluruh komponen rakyatnya.

    Kita juga harus awas dan mawas diri, biasanya ada saja pihak2 ketiga yang mengail ikan di air keruh, mereka tahu negara kita lagi konflik baik secara horisontal maupun vertikal, ada saja yang ingin ngomporin dsb serta memanfaatkan kesempatan. Untuk itu kita harus bisa menvaksinasi diri kita sendiri untuk membetengi segala virus2 yang menggerogoti ideologi bangsa.

    Salam vaksinasi,

    Dewi

  14. speaker ...

    Negeri ini memang banyak orang ke tiga…..banyak pemancing / pengail ikan diair keruh…..air di obok obok sampai keruh bahkan sangat keruh karena campur tanah….si ikan mabuk dan binun,,,,bahkan ada yang mati…….

  15. minti

    Salam hormat untuk semua …..

    Siapa pemimpin . presiden Indonesia di tahun pemilu 2014….para capres apa masih didominasi orang lama..>>>>>apa mereka tidak bosan dan lelah ??? dan pasti bisa diduga korupsi masih saja seperti jamur…..NKRI dijamin semakin terpuruk…..

  16. semrepet

    Ini suara rakyat….menanggapi kebijakan dari pemerintah..,mereka tidak ngerti apa itu politik partai huum dll..mereka hanya berharap masih bisa hidup dengan swadaya sendiri tanpa ulur tangan pemerintah…..dan jelasnya mereka semakin sengsara karena semua harga melambung tinggi…..

    Mungkin benar kelakar ini….banyak pemimpin mungkin dan memang sedang tidur dan bahkan sangat pulas…..

  17. culun

    Selmamat siang dan hormat saya…..

    Perbedaan bukan rahmat…..apa iya ??…..

    Perbedaan yang kenyataanya sering menimbulkan konflik horizontal ( SARA
    )…..mungkin benar…..

    Bagaimana caranya perbedaan itu adalah rahmat…. …bagaimana cara dan solusinya ??…..

    Siapa sebenarnya yang paling gemar dan giat memunculkan sara dan juga perbedaan di negeri ini…untuk menjadi ” Sang Juara ” sehingga negeri ini sering ada tawuran dan saling menghujat..??

    Mungkin karena nurani budi pekerti sudah ” matek ” …sudah ditinggalkan dan diganti pemahaman lain sehingga sara selalu sering terjadi di negeri ini….

    http://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/perbedaan-bukanlah-rahmat-110856939.html

  18. culun

    Semua ini mungkin hanya lelamisan dibibir…..ini untuk kami dan itu untuk kamu sekalian…..mari berjalan sendiri sendiri untuk menuju kebaikan dan bukan untuk meraih kemenangan atas kelompok lain……ternyata perkataan itu hanya kepalsuan belaka……hanya diiyakan dan dijalankan bila menguntungkan dan ditindas dan bahkan dimusnakan bila merugikan dan banyak perkataan caci maki sering kita dengar dengan sangat jelas di public ….kafir…murtad…atheis….iblis….neraka….dll yang membuat hati miris

    SARA .ini pun seperti kasus ” Korupsi “…. mengorupsi hak orang lain dalam hal yang bersifat pribadi…….

    Masalah yang dihadpi NKRI bukan masalah korupsi benda saja ” uang Negara ” yang dilakukan para tikus…..

    Pemimpin NKRI yang adil dikemudian hari semoga saja ada dan bisa bisa melindungi hak rakyat dalam hal yang bersifat pribadi yaitu ” Sembah Hyang “….tidak ada perkataan hinaan dan hujatan kafir…sesat…atheis….. dll…..

    Apakah benar bahwa NKRI jaman jadul bahelula adalah masyarakat penyembah Setan / Iblis ?????????????????……
    Kepercayaan / keimanan dan faham Nusantara bukan saja dikorupsi mungkin sudah dirampok habis habisan…..

    Adakah sejarah masa lalu Nusantara menunjukan bukti bahwa bangsa Nusantara adalah bangsa biadab dan dholim ….atau bangsa tanpa iman ???……

    • culun

      Salam Bapak O O…..didelete saja tulsan saya….karena nadanya seperti orang marah…..tulisan atau komentar yang tidak berdasarkan niat baik……saya hanya menuangkan bahasa alam…..alam / bumi yang selalu bersifat memenuhi dan mengadakan semua yang diperlukan oleh mahluk…….alam bumi dan Tuhan YME yang bersifat adil dan bijaksana…..tidak membedakan…..terima kasih

  19. O-O

    Salam poro Akang semuanya… Kang Culun, Semrepet, Minti, SpeakeR, Klilip, Spion… Kang Nur, Kang GP, Kang Pelayan….. serta Ibu-Ibu sekalian.
    Mohon maap…. bila ada komentar yang sempat tertahan. Sebelumnya memang diatur agar menahan komentar yang berisi kata-kata makian, saat ini sudah dihapus.
    Kita tidak dididik agar terbiasa menerima “Perbedaan”….. sejak kecil “Play Group” TK, TPA … SD-SMP-SMU anak-anak kita diharuskan pakai “Seragam/ uniform”… hehehe… bahkan sampai dewasa di tempat kerjapun…. masih harus pakai seragam…. kalau melihat ada yang berbeda… serasa aneh… itulah Indonesia… mestinya sesuai dg slogan “Unity in Diversity”.
    Nuwun.

    • gp

      Juancok, slompret, sontoloyo dll sudah menjadi budaya bangsa ini untuk meredakan rasa marah atau sbg pelampiasansehingga tidak keluar okol/otot hehe…
      Makian juga kadang bisa berarti keakraban kita.

      Kadang2 bagi yg masih punya rasa sungkan/tata krama/sopan santun sering makian berubah penulisan misal ‘anjing’ berubah jadi ‘anjrit’… Masih ada remnya haha…

      Jangan lupa budaya kita juga mengenal ‘ngedumel’… Adik dr makian.

      Dulu sekali lebih banyak orang indonesia yg ngedumel kalau tidak cocok di hati… Tapi indonesia tetap aman dan damai… Makin lama ngedumel berubah jadi caci maki karena budaya sudah bergeser… Tidak ada lagi budi pekerti… Tidak ada lagi atau berkurang tata krama/sopan santun… Dan anehnya hal ini dibiarkan saja oleh negara yg tidak segera meredam gejala ini… Yg makin ditonjolkan malah keduniawian… Cepat kaya… Entah dr mana asalnya, bagaimana prosesnya… yg penting kaya. Uang adalah segalanya…!

      Lebih parah lagi sekarang… Ada penambahan… Tahta adalah segalanya..!

      Dan jadilah sekarang… Caci maki sambil demo sambil merusak…

      Mau sakit leher akibat sering geleng-geleng kepala karena heran…? Jawabannya adalah… Hiduplah di indonesia..!!!
      Sontoloyo..!!! (Hehe…)

    • gp

      Juancok, slompret, sontoloyo dll sudah menjadi budaya bangsa ini untuk meredakan rasa marah atau sbg pelampiasansehingga tidak keluar okol/otot hehe…
      Makian juga kadang bisa berarti keakraban kita.

      Kadang2 bagi yg masih punya rasa sungkan/tata krama/sopan santun sering makian berubah penulisan misal ‘anjing’ berubah jadi ‘anjrit’… Masih ada remnya haha…

      Jangan lupa budaya kita juga mengenal ‘ngedumel’… Adik dr makian.

      Dulu sekali lebih banyak orang indonesia yg ngedumel kalau tidak cocok di hati… Tapi indonesia tetap aman dan damai… Makin lama ngedumel berubah jadi caci maki karena budaya sudah bergeser… Tidak ada lagi budi pekerti… Tidak ada lagi atau berkurang tata krama/sopan santun… Dan anehnya hal ini dibiarkan saja oleh negara yg tidak segera meredam gejala ini… Yg makin ditonjolkan malah keduniawian… Cepat kaya… Entah dr mana asalnya, bagaimana prosesnya… yg penting kaya. Uang adalah segalanya…!

      Lebih parah lagi sekarang… Ada penambahan… Tahta adalah segalanya..!

      Dan jadilah sekarang… Caci maki sambil demo sambil merusak…

      Mau sakit leher akibat sering geleng-geleng kepala karena heran…? Jawabannya adalah… Hiduplah di indonesia..!!!
      Sontoloyo..!!! Hehe…

  20. culun

    Salam hormat Porosepuh …

    Unity in Diversity”.artinya ” BHINEKA TUNGGAL IKA “……

    Sejarah dan ilham dalam hadirnya Lambang Negara Indonesia NKRI yaitu Burung Garuda …..

    Sekedar bacaan dan renungan untuk kita semua dan mempelajari dan belajar dari para Porosepuh pendiri NKRI ….apa dan ada maksud apa pola pikir Manusia yang terhormat itu……

    ————————————————————————————————-

    Garuda muncul dalam berbagai kisah, terutama di Jawa dan Bali. Dalam
    banyak kisah Garuda melambangkan kebajikan, pengetahuan, kekuatan, keberanian, kesetiaan, dan disiplin. Sebagai kendaraan Wishnu, Garuda juga memiliki sifat Wishnu sebagai pemelihara dan penjaga tatanan alam semesta. Dalam tradisi Bali, Garuda dimuliakan sebagai “Tuan segala makhluk yang dapat terbang” dan “Raja agung para burung”. Di Bali ia biasanya digambarkan sebagai makhluk yang memiliki kepala, paruh, sayap, dan cakar elang, tetapi memiliki tubuh dan lengan manusia. Biasanya digambarkan dalam ukiran yang halus dan rumit dengan warna cerah keemasan, digambarkan dalam posisi sebagai kendaraan Wishnu, atau dalam adegan pertempuran melawan Naga. Posisi mulia Garuda dalam tradisi Indonesia sejak zaman kuna telah menjadikan Garuda sebagai simbol nasional Indonesia, sebagai perwujudan ideologi Pancasila. Garuda juga dipilih sebagai nama maskapai penerbangan nasional Indonesia Garuda Indonesia. Selain Indonesia, Thailand juga menggunakan Garuda sebagai lambang negara

    ————————————————————————————————

    Lalu ada banyak peristiwa yang pernah merongrong NKRI untuk dijadikan Negara dengan faham lain……atas dasar apa ???….apa karena Panca Sila serta Gambar Garuda tidak sesuai dengan gambar dan kemauan dari Penghuni Langit. ??…atau hanya ambisi saja dari kelompok yang telah ditunggangi oleh sifat para penjajah ( sifat ingin menguasai dan membentangkan sayap yang sudah mengakar mbalung sumsum )…..

    Mungkin saja penduduk Pribumi Nusantara sudah ada yang dicuci otaknya dan bukan tambah bersih tapi menjadi buram menutupi hati nuraninya ,,, menjadi manusia aneh dan tidak bisa kita fahami apa yang ada dalam otaknya…………

  21. js

    Selamat petang dan salam hormat untuk semuanya…….

    Saya yakin dan percaya bahwa dirumah ini banyak teman yang terhormat dipandangan Gusti Allah ….mohon doanya untuk kesuksesan anak wedok dan para rekan ITS mewakili Indonesia dalam acara lomba di Perancis dan Spanyol….

    Acara di luar sana 2 atau 3 minggu dan berangkat besok malam atau selasa pagi….

    Atas doa dan saran Poro Panjenengan ….kami ucapkan banyak terima kasih….Nuwun…

  22. @ JS,

    Semoga sang putri tercapai cita-citanya dan sukses kompetisinya :)…

    @ GP,

    Wah, kalau itu sih biasa aja kali, hanya di kasih bumbu penyedap, jadinya ceritanya kayak di dramatisir seperti mitos, kepercayaan dsb, kalau mau mandi bertelanjang dada ya silahkan saja wong memang mandi di kali/ sungai/ laut/ air terjun ya pasti wajar dong karena nggak ada ruang sekat2nya… artinya mandi ramai2 sekeluarga, sekampung, sedesa, senegara… ambil nilai possitifnya saja, seperti mereka jadi lebih akrab, guyup, toleransi dan tentunya tidak ada yang ingin melecehkan atau di lecehkan dsb. Di samping itu, jangan lupakan pula nilai lebih keindahan pemandangan :)…

    @ Culun, GP, ABR, Nurkarupan, All,

    Maturnuwun semangatnya, Jaman edan, yen ora edan ora kumanan, tapi masio jaman edan, ora melu edan isih iso kumanan :)…

    Salam rahayu,

    Dewi

Bila Berkenan, Mohon Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s