Kebahagiaan, Keikhlasan, Kegelapan Hati.

Topik kali ini adalah membahas tentang “Kebahagiaan”.

Sebuah kata yang sangat sulit untuk didefinisikan serta sulit ditentukan parameter pengukurannya.

Berikut ini adalah tulisan yang dipindahkan dari komen pengunjung yang menebut dirinya “Copas” di klosobedah halaman “Harapanku” karena topiknya kurang sesuai sehingga perlu disediakan topik tersendiri, serta ditambah komen Kang KK yang ada keterkaitan dengan topik ini.

Yusuf Mansur Network

( KEHIDUPAN ) SIAPAPUN ORANGNYA BANYAK YG MENCARI KEBAHAGIAAN – Orang sakit menyangka, bahagia terletak pada kesehatan! Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan! Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan! Orang biasa menyangka bahagia terletak pada kepopuleran! Dan sangkaan-sangkaan lain…Tapi, sesungguhnya, kebahagiaan bukanlah terletak pada itu semua. Semua kenikmatan duniawi bisa menjadi tangga yang mengantar kepada kebahagiaan. Semuanya adalah sarana. Bukan bahagia itu sendiri. Lihatlah, betapa banyak pejabat yang hidupnya dibelit dengan penderitaan. Lihat pula, betapa banyak artis terkenal yang hidupnya jauh dari kebahagiaan dan berujung kepada narkoba dan obat penenang!

Jika demikian, apakah yang disebut”bahagia” (sa’adah/happiness).

Selama ribuan tahun, para ahli pikir, telah sibuk membincang tentang kebahagiaan. Kamus The Oxford English Dictionary (1963) mendefinisikan ”happiness” sebagai: ”Good fortune or luck in life or in particular affair; success, prosperity.” Jadi, dalam pandangan ini, kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di luar manusia, dan bersifat kondisional. Kebahagiaan bersifat sangat temporal. Jika dia sedang berjaya, maka di situ ada kebahagiaan. Jika sedang jatuh, maka hilanglah kebahagiaan. Maka, menurut pandangan ini, tidak ada kebahagiaan yang abadi, yang tetap dalam jiwa manusia. Kebahagiaan itu sifatnya sesaat, tergantung kondisi eksternal manusia.

Prof. Naquib al-Attas menggambarkan kondisi kejiwaan masyarakat Barat sebagai: “Mereka senantiasa dalam keadaan mencari dan mengejar kebahagiaan, tanpa merasa puas dan menetap dalam suatu keadaan.” Tokoh panutan mereka adalah Sisyphus, yang selalu berusaha mendorong batu ke atas bukit. Tapi, ketika batu sudah sampai di atas bukit, digelindingkannya kembali batu itu ke bawah. Kemudian, dia dorong lagi, batu itu ke atas. Begitu seterusnya. Tiada pernah berhenti.

Itulah perumpamaan tentang kondisi batin masyarakat Barat yang menganut paham relativisme dan tidak mengenal kebenaran pada satu titik tertentu. Ketika sampai pada satu tahap tertentu, dia kembali menghancurkan dan mencari lagi. Mereka selalu dalam pencarian. Tidak akan pernah puas. Laksana meminum air laut. Jika sudah mendapatkan satu gunung emas, mereka akan mencari lagi gunung emas yang kedua.

Berbeda dengan pandangan tersebut, Prof. Naquib Al-Attas mendefinisikan kebahagiaan (sa’adah/happiness) sebagai berikut:

”Kesejahteraan” dan ”kebahagiaan” itu bukan dianya merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan, bukan kepada diri hayawani sifat basyari; dan bukan pula dia suatu keadaan akal-fikri insan yang hanya dapat dinikmati dalam alam fikiran dan nazar-akali belaka. Kesejahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada keyakinan diri akan Hakikat Terakhir yang Mutlak yang dicari-cari itu – yakni: keadaan diri yang yakin akan Hak Ta’ala – dan penuaian amalan yang dikerjakan oleh diri itu berdasarkan keyakinan itu dan menuruti titah batinnya.” (SMN al-Attas, Ma’na Kebahagiaan dan Pengalamannya dalam Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC:2002), pengantar Prof. Zainy Uthman, hal. xxxv).

Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati, yang dipenuhi dengan keyakinan (iman), dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu. Bilal bin Rabah merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya, meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Para sahabat nabi, rela meninggalkan kampong halamannya demi mempertahankan iman. Mereka bahagia. Hidup dengan keyakinan dan menjalankan keyakinan.

Imam al-Ghazali, seperti dikutip Hamka dalam Tasaud Modern, mengungkapkan: ”Bahagia dan kelezatan yang sejati, ialah bilamana dapat mengingat Allah.” Hutai’ah, seorang ahli syair, menggubah sebuah syair:

ولست آرى السعادة جمع مال * ولكن التقى لهي السعيد

(Menurut pendapatku, bukanlah kebahagiaan itu pada pengumpul harta benda;

Tetapi, taqwa akan Allah itulah bahagia).

Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ”ma’rifatullah”, telah mengenal Allah SWT. Selanjutnya, al-Ghazali menyatakan:

”Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu ialah bila kita rasai nikmat kesenangan dan kelezatannya, dan kelezatan itu ialah menurut tabiat kejadian masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dari tubuh manusia. Ada pun kelezatan hati ialah teguh ma’rifat kepada Allah, karena hati itu dijadikan ialah buat mengingat Tuhan…. Seorang hamba rakyat akan sangat gembira kalau dia dapat berkenalan dengan wazir; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan pula dengan raja. Tentu saja berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala macam kegembiraan, lebih dari apa yang dapat dikira-kirakan oleh manusia, sebab tidak ada yang maujud ini yang lebih dari kemuliaan Allah… Oleh sebab itu tidak ada ma’rifat yang lebih lezat daripada ma’rifatullah.”

Ma’rifatullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan, bahwa ”Tiada Tuhan selain Allah” (Laa ilaaha illallah). Untuk itulah, untuk dapat meraih kebahagiaan yang abadi, manusia wajib mengenal Allah. Caranya, dengan mengenal ”ayat-ayat-Nya”, baik ayat kauniyah maupun ayat qauliyah. Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan manusia memperhatikan dan memikirkan tentang fenomana alam semesta, termasuk memikirkan dirinya sendiri. Alam semesta ini adalah ”ayat”, tanda-tanda, untuk mengenal Sang Khaliq. Maka, celakalah orang yang tidak mau berpikir tentang alam semesta.

Disamping ayat-ayat kauniyah, Allah SWT juga menurunkan ayat-ayat qauliyah, berupa wahyu verbal kepada utusan-Nya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Karena itu, dalam QS Ali Imran 18-19, disebutkan, bahwa orang-orang yang berilmu adalah orang-orang yang bersaksi bahwa ”Tiada tuhan selain Allah”, dan bersaksi bahwa ”Sesungguhnya ad-Din dalam pandangan Allah SWT adalah Islam.” Risalah kenabian Muhammad saw telah menyempurnakan risalah para nabi sebelumnya.

Inilah yang disebut sebagai ilmu yang mengantarkan kepada peradaban dan kebahagiaan. Setiap lembaga pendidikan, khususnya lembaga pendidikan Islam, harus mampu mengantarkan sivitas akademika-nya menuju kepada tangga kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Kebahagiaan yang sejati, yang terkait antara dunia dan akhirat. Kriteria inilah yang harusnya dijadikan indikator utama, apakah suatu program pendidikan (ta’dib) berhasil atau tidak. Keberhasilan pendidikan dalam Islam bukan diukur dari berapa mahalnya uang bayaran sekolah; berapa banyak yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri, dan sebagainya. Tetapi, apakah pendidikan itu mampu melahirkan manusia-manusia yang beradab yang mengenal dan bahagia beribadah kepada Sang Pencipta.

Manusia-manusia yang berilmu seperti inilah yang hidupnya bahagia dalam keimanan dan keyakinan; yang hidupnya tidak terombang-ambing oleh setiap keadaan. Dalam kondisi apa pun, hidupnya bahagia, karena dia sudah mengenal Allah, ridha dengan keputusan Allah, dan berusaha menyelaraskan hidupnya dengan segala macam peraturan Allah yang diturunkan melalui utusan-Nya.

Dalam kondisi apa pun, dalam posisi apa pun, manusia semacam ini akan hidup dalam kebahagiaan. Fa laa khaufun ’alaihim wa laa hum yahzanuun. Hidupnya hanya mengacu kepada Allah, dan tidak terlalu peduli dengan reaksi manusia terhadapnya. Alangkah indah dan bahagianya hidup semacam itu; bahagia dunia dan akhirat.

Karena itu, kita paham, betapa berbahayanya paham relativisme kebenaran yang ditaburkan oleh kaum liberal. Sebab, paham ini menggerus keyakinan seseorang akan kebenaran. Keyakinan adalah harta yang sangat mahal dalam hidup. Dengan keyakinan itulah, kata Iqbal, seorang Ibrahim a.s. rela menceburkan dirinya ke dalam api. Karena itu, kata penyair besar Pakistan ini, hilangnya keyakinan dalam diri seseorang, lebih buruk dari suatu perbudakan.

Sebagai orang Muslim, kita tentu mendambakan hidup bahagia semacam itu; hidup dalam keyakinan; mulai dengan mengenal Allah dan ridha menerima keputusan-keputusan-Nya, serta ikhlas menjalankan aturan-aturan-Nya. Kita ingin, bahwa kita merasa bahagia dalam menjalankan shalat, kita bahagia menunaikan zakat, kita bahagia bersedekah, kita bahagia menolong orang lain, dan kita pun bahagia menjalankan tugas amar ma’ruf nahi munkar.

Mudah-mudahan, Allah mengaruniai kita ilmu yang mengantarkan kita pada sebuah keyakinan dan kebahagiaan abadi, dunia dan akhirat. Amin

Selanjutnya disambung komen Kang KK tentang Keikhlasan dalam bekerja serta kegelapan hati.

Ketahuilah… Jika sudah banyak orang yang bekerja karena mengharap ridha Tuhan, Insya Allah semua harapan itu akan terwujud. Sungguh mulia manusia yang bekerja karena mengharap ridha-Nya, sebab ia akan bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab, tak sedikitpun ia berani mengecewakan orang lain hanya demi uang. Sebab, uang memang bukan tujuan utama, namun mendapat ridha Tuhan itulah yang terpenting, dan karenanya secara otomatis ia akan ikhlas untuk melayani sesama, walaupun uang yang didapatnya tidaklah seberapa. Kenapa bisa demikian? Sebab ia sangat percaya kalau rezeki bukanlah berasal dari manusia, melainkan dari Tuhan yang Maha Kaya, yang bisa memberinya rezeki dari jalur manapun yang tak disangka-sangka.

Seorang petani yang ikhlas menggarap sawah/ladang demi mencari ridha-Nya akan berusaha keras untuk menghasilkan panen yang terbaik demi untuk kepuasan para konsumennya. Tidak seperti para petani rakus saat ini, hanya demi mendapat untung besar, dipanennya juga tanaman yang pelum masanya. Ketika panen melimpah dan harganya menjadi murah lantas ia bakar hasil panennya.

Seorang pedagang yang ikhlas menjual hasil bumi demi mencari ridha-Nya akan berusaha keras untuk jujur dalam bertransaksi, ia tak mau sedikitpun merugikan pihak produsen maupun konsumen. Tidak seperti pedangang rakus saat ini, ia membeli dengan sangat murahnya dan menjualnya dengan sangat mahalnya, bahkan ada yang berani mengakali barang dagangannya agar tampak berkualitas.

Sungguh menyedihkan prilaku bangsaku, tidak hanya orang besar bahkan orang kecil pun kelakuannya sama saja, hanya demi mendapat untung besar apapun dilakukannya. Lihat saja para pedagang kecil, banyak yang berkelakuan tidak jujur. Kenapa bisa demikian, jawabnya karena mereka tidak memahami arti kehidupan, mereka tidak memahami untuk apa mereka diciptakan. Salahkah mereka? Mereka tidak sepenuhnya bersalah, sebab yang lebih pantas disalahkan adalah mereka yang sudah paham namun justru diam saja. Juga mereka yang punya kuasa terus membiarkan mereka menjadi sapi perahan para manusia serakah, membiarkan pikiran dan perasaan mereka terus diracuni oleh berbagai hal yang menggelapkan hati sehingga mereka tak mampu lagi membedakan mana yang Tuhan ridhai dan tidak, dan akhirnya merekapun menjadi lupa dengan tujuan utama hidupnya.

Duhai kalian yang sudah memahami, pikirkanlah apa sebenarnya yang membuat hati mereka menjadi gelap, dan apa sebenarnya solusi untuk membesihkan hati mereka itu? Ketahuilah… hati mereka gelap bukan karena miskin, juga bukan karena tidak mendapat pendidikan budi pekerti, namun karena ada sebab lain, salah satunya adalah “ketidakpedulian bertopeng menghargai dan menghormati”. Lainnya silakan dipikirkan bersama…!

Selanjutnya, adalah “Kebahagiaan untuk semua” seperti yang dikatakan seorang filsuf dari Inggris.

happy, Spencer

Sebuah Kebahagiaan, sangat individual.

khayalan anak

Tambahan dari kang Tomy Arjunanto.

kebahagiaan, tomyarjunanto.

Iklan

178 Komentar

Filed under Uncategorized

178 responses to “Kebahagiaan, Keikhlasan, Kegelapan Hati.

  1. Have you ever considered about adding a little bit more than just your articles?
    I mean, what you say is valuable and all. However think of if you added some great visuals
    or videos to give your posts more, “pop”! Your content is excellent but with pics and
    videos, this blog could definitely be one of the very
    best in its niche. Superb blog!

  2. Nice post. I was checking consrantly this blog and I am impressed!
    Extremely helpful info particularly the last part 🙂 I
    care for such ihfo much. I was seeking tjis particular info for a very long
    time. Thankk you aand best of luck.

  3. If some one desires to be updated with most up-to-date technologies therefore he must
    be visit this web page and be up to date all the time.

  4. Yes! Finally something about mp3 players.

  5. Have you ever wondered I’d like to sell my car online?

    There are loads of options, so it may be overwhelimg unless you are shown who you can trust.

  6. I’ve been considering whether to sell my audi for some time now.
    And I’ve found it to find great online car buyers
    in my local area – well, until I came across a reputable network of car dealers.

    See trusted car buyers are very hard to find on the internet nowadays
    – unless of course, you know where has been approved.

  7. Hi there, after reading this amazing article i am also happy to share my know-how
    here with mates.

  8. Hi there, I enjoy reading all of your article post.
    I like to write a little comment to support you.

  9. Right here is the right blog for everyone who hopes to find out about this topic.
    You know a whole lot its almost hard to argue with you
    (not that I really would want to…HaHa). You definitely put a brand new spin on a subject that has been written about
    for ages. Excellent stuff, just great!

  10. Good day! I just would like to give you a big thumbs up for the
    excellent info you’ve got right here on this post.
    I am returning to your site for more soon.

  11. excellent put up, very informative. I’m wondering why the opposite experts of this sector do not realize this.
    You must proceed your writing. I am confident, you have a huge readers’ base already!

  12. Have you ever considered publishing an e-book or guest authoring on other websites?

    I have a blog based upon on the same information you discuss and would love
    to have you share some stories/information. I know my viewers would value your work.
    If you are even remotely interested, feel free to shoot me an e mail.

  13. Nice blog here! Also your website loads up fast! What web host are
    you using? Can I get your affiliate link to your host?
    I wish my web site loaded up as quickly as yours lol

  14. You could definitely see your enthusiasm within the article you
    write. The sector hopes for more passionate writers like you who aren’t
    afraid to mention how they believe. At all times go
    after your heart.

  15. Liane Erler

    I have been browsing online more than 4 hours today, yet I never found any interesting article like yours. It’s pretty worth enough for me. Personally, if all web owners and bloggers made good content as you did, the internet will be much more useful than ever before.|

Bila Berkenan, Mohon Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s