Tingkatan Keilmuan Bidang Kepemimpinan

Syari’at dalam perspektif keilmuan (dalam tingkatan spiritual Islam) yang digambarkan dalam bagan Empat Tingkatan Spiritual Umum (tingkat pertama) adalah syariat, tingkatan kedua adalah tariqah atau tarekat dan tingkat ketiga adalah hakikat yang merupakan kebenaran terdalam serta tingkatan keempat adalah ma’rifat yang merupakan wilayah ‘tak terlihat’ yang sebenarnya adalah inti dari wilayah hakikat sehingga mampu mengenali Sang Sumber Keilmuan.

Tingkatan keilmuan dlm keilmuan barat juga terbagi dalam beberapa tingkatan, tingkatan pertama adalah lulus test masuk dan resmi secara hukum sebagai siswa sekolah keahlian tsb (mis: Fak Teknik, Fak Kedokteran, Fak Ekonomi), tingkatan selanjutnya mengikuti/ mempelajari berbagai modul materi keilmuan tsb (kuliah, literatur), tingkatan berikutnya adalah menelti hal yg terkait keilmuannya serta tingkatan tertingginya adalah filosofi keilmuan (pemahaman berdasarkan penelitiannya sendiri tentang hubungan sebab-akibat yg sesuai dg hukum alam) bagi yg telah lulus tingkatan ini digelari PhD (lulusan LN) atau Doktor (lulusan DN).

Tingkatan keilmuan Timur dan Barat ternyata mirip (serupa tapi tak sama) kalau di Timur keilmuan yg masih berkembang terutama bidang Keagamaan tetapi zaman dulu keilmuan Timur berkembang pula dibidang yg lain, sedangkan Barat lebih mengembangkan keilmuan selain bidang agama.

Perbedaan yang lain adalah berhubungan dengan legalitas hukum. Keilmuan Barat (Non Agama) harus sesuai aturan hukum yang dimulai saat lolos persyaratan mengikuti pendidikan-lulus test masuk pendidikan-lulus tataran tingkatan-lulus ujian akhir dan bukti publikasi dalam journal resmi yg diakui dunia Internasional.

Keilmuan Timur (Agama), siapa saja bisa mempelajarinya tanpa harus kuliah di Perguruan Tinggi Agama dan bebas mengaku telah mempelajari tingkatan tertingginya (makrifat) tanpa harus menunjukkan bukti resmi yg mendukungnya, tetapi kini sudah mulai bergeser menuju legalitas hukum (kuliah bidang keagamaan S1 bahkan S2) karena tuntutan zaman (terutama dikota besar) berhubung makin banyak pengguna/umatnya yg juga berpendidikan tinggi dan bagi yang tak lewat pendidikan resmi akhirnya hanya laku di kampung pelosok yang pengguna/umatnya kebanyakan kurang berpendidikan.

Nah, bagaimanakah pendidikan keilmuan bidang kepemimpinan? Secara resmi secara hukum adalah melalui pendidikan yg dikelola negara (STPDN, Akmil, Sesko dll) atau Perguruan Tinggi Negri/swasta terakreditasi atau kursus yg diadakan oleh instansi resmi sedangkan jalur tak resmi ya seperti belajar model Timur alias otodidak.

Sayangnya, sekolah kepemimpinan yang ada saat ini hanya sampai tingkatan syariat dan tarekat sehingga lulusannya tak lebih dari sekedar jadi “mandor” seperti yg ditunjukkan oleh sikap para pemimpin kini.

Apakah ciri-ciri (petanda, marker) dari tingkatan hakekat dan makrifat kepemimpinan?. Sebelum menjawab ini maka harus dipahami dulu tingkatan syariat dan tarekatnya kepemimpinan. Syariatnya adalah sudah jelas diangkat jadi pemimpin (pemimpin diri-sendiri, pemimpin keluarga, pemimpin lingkungan, pemimpin organisasi/ perusahaan/ instansi resmi). Tingkatan Tarekatnya juga mudah dicapai dg mengikuti pendidikan resmi/kursus/simposium atau belajar dari literatur selanjutnya mampu mengatur strategi (management) untuk susksesnya misi dan visi badan/organisasi/perusahaan/instansi yg dipimpinnya.

Tingkatan Hakekatnya adalah kemakmuran/kebahagiaan seluruh anggota tim dan meminimalisir kerusakan internal badan/organisasi yg dipimpinnya yang mana hal ini hanya bisa dicapai oleh pemimpin yg menyatu dg anakbuahnya yang lebih dikenal dg istilah “manunggaling kawulo (anak-buah, karyawan) lan gusti (pimpinan, manager, ketua, komandan). Pemahaman tingkatan hakekat adalah dengan cara menghayati kepemimpinan pada diri sendiri yaitu memimpin raga/badan ini. Seperti pada kata pepatah bahwa “pemimpin itu dilahirkan”, itu memang benar. Saat manusia (juga mahluk hidup yg lain) dilahirkan sebenarnya sudah jadi pemimpin yaitu memimpin badan / raga / wadagnya masing-masing.

Tubuh/wadag ini merupakan kumpulan dari bermilyar-milyar sel hidup yang jenis dan sifatnya berbeda -beda tetapi bersatu-padu dan saling bekerjasama untuk menjaga agar semua sel tubuh ini tetap hidup. Saat dalam kandungan, seluruh kebutuhan hidup (gula /lemak /protein dan oksigen) janin dicukupi oleh ibunya melalui tali pusat. Begitu dilahirkan maka suplai kebutuhan langsung terhenti maka seluruh sel-sel hidup (anak-buah) tubuh bayi tsb kekurangan bahan oksigen dan mengirim sinyal kepada sang pemimpin (mind dari si bayi), berhubung si bayi tidak tahu harus berbuat apa sehingga menumpuklah rasa bingung-sedih-jengkel atas ketidakmampuannya maka si bayi menangis sekeras-kerasnya.

Saat menangis (otot perut, otot dada dan otot leher berkontraksi/mengejang/mengecil/memendek volumenya) maka sisa air ketuban di saluran nafas akan terdorong keluar, setelah otot bantu nafas berkontraksi maksimal akhirnya kelelahan akhirnya otot istirahat/rileksasi sehingga paru-paru mengembang dan otomatis udara mengalir masuk kedalam ruang paru dan terjadilah proses pengambilan nafas yg pertama dan kebutuhan oksigen mulai terpenuhi. Apabila masih kekurangan oksigen biasanya si bayi akan terus menangis sehingga udara akan terpompa masuk ke paru-paru dan oksigen akan terkumpul yg selanjutnya dikirim keseluruh sel-sel tubuh bayi dg bantuan pompa jantung. Pengalaman ini akan terekam dalam memori otak si bayi, demikian pula saat sel tubuh kekurangan sumber kebutuhan hidup (air, gula, lemak, protein) maka akan memberi sinyal lagi yg berupa rasa haus dan lapar, lagi-lagi si bayi menangis sehingga ibunya menetekinya (memberikan kebutuhan sibayi) setelah nyaman maka si bayi akan tenang.

Selain kebutuhan pokok tersebut sel tubuh bayi juga perlu kenyamanan sehingga saat dia kencing akan menyebabkan basah tubuhnya dan timbul rasa tak nyaman maka lagi-lagi si bayi akan menangis, sehingga ibunya akan memeriksa bayinya apa yg membuatnya menangis dan akhirnya si ibu membersihkan dan mengganti popok kering. Nah semua hal yang tak nyaman berubah menjadi nyaman dg cara menangis ini akan terekam dalam otak dan menjadi ilmu yg pertama dari si bayi tentang cara memenuhi kebutuhannya yaitu dengan cara menangis. Dalam perkembangan dan pertumbuhan mentalnya seiring bertambahnya waktu/usia si bayi maka semakin pintarlah dia sehingga akhirnya bisa menggunakan bahasa sebagai sarana berkomunikasi untuk menyampaikan kebutuhan/keinginannya.

Ditinjau dari tingkat perkembangan ilmu kepemimpinan maka sejak saat bayi terlahir hidup itulah merupakan tonggak resmi sebagai pemimpin (tingkat syariat) bagi bermilyar-milyar sel hidup yang bersatu padu dan bekerjasama dalam suatu sistem yg sangat rumit yang membentuk raga/tubuh si bayi dengan satu tujuan agar seluruh anggota sel tubuh tetap hidup.

Dalam perkembangannya si bayi akan terus belajar agar semakin mampu memenuhi segala kebutuhannya dan akan semakin tumbuh pesat pula pertumbuhan badannya dan perkembangan kemampuan otaknya dimana proses ini berlangsung seumur hidup. Nah, tingkatan belajar memenuhi kebutuhan hidup ini berada pada tingkat Tarekat Kepemimpinan.

Masa selanjutnya adalah saat si bayi yg telah tumbuh dewasa maka akan menikah dan melahirkan putranya, maka secara tidak disadari maka ayah/ibunya (yg dulunya si bayi dan tumbuh jadi dewasa serta telah jadi ayah/ibu) telah meningkat taraf kepemimpinannya mencapai tingkat Hakekat tanpa disadarinya (tetapi taraf ini hanya berlaku terhadap kepemimpinannya atas putranya saja). Nah, seperti apakah tingkatan itu? Sebenarnya untuk mencapai taraf Hakekat ini tak harus nunggu berkeluarga dan berputra dan kebanyakan pula meskipun sudah berputra belum bisa mencapai level Hakekat Kepemimpinan.

Agar bisa memahami sehingga mudah mencapai taraf Hakekat Kepemimpinan maka kita perlu mengulang beberapa hal penting diatas. Pada Hakekatnya semua dari kita adalah pemimpin dari bermilyar-milyar sel-sel hidup pembentuk tubuh yang beraneka ragam jenis dan sifatnya yang saling bekerjasama untuk satu tujuan agar seluruh sel tubuh bisa terus bertahan hidup bahkan berkembang. Jadi pada Hakekatnya kita sebagai pemimpin tubuh ini hanyalah sekedar pelayan dari bermilyar-milyar sel hidup pembentuk tubuh/raga untuk mencukupi segala kebutuhan seluruh sel tubuh agar tetap hidup dan terus berkembang.

Bukti bahwa kita sebenarnya adalah cuma pelayan tubuh/raga kita adalah sebagai berikut:

Saat sel tubuh kekurangan air karena kepanasan maka sel tubuh akan mengirim sinyal lewat tenggorokan pada kita yg berupa rasa haus…. kita menurutinya….mencari air untuk diminum. Saat sel tubuh kekurangan bahan bakar (gula) maka sel tubuh mengirim sinyal lewat perut sehingga kita merasa lapar…kita menurutinya…mencari sesuatu yg bisa dimakan. Saat sel otak kelelahan…maka akan mengirim sinyal berupa rasa kantuk…. kita menurutinya pergi tidur. Bahkan kerjaan yg paling bau dan jijikpun akan kita dilakukan saat perut kepenuhan dan harus dikosongkan…. maka larilah kita cari WC.

Saat sel tubuh bagian bawah (telapak kaki) menginjak paku maka akan mengirim sinyal berupa rasa sakit… dan kita akan menghentikan kegiatan kita untuk memeriksa telapak kaki yg sakit selanjutnya mencabut paku yg nancap dan diolesi obat bahkan bila perlu minta tolong ke ahlinya (dokter) agar tidak memicu sakit parah (tetanus) yg bisa membunuh kita. Setelah itu maka kita menyuruh kaki yg sehat untuk memikul seluruh beban berat tubuh sehingga jalan terpincang-pincang untuk sementara waktu agar kaki yg sakit cepat sembuh dan bisa berbagi beban lagi.

Kenyamanan tubuhpun akan kita usahakan….saat jarak tempuh terlalu jauh sehingga otot kaki bakal pegal maka kita memilih naik kendaraan, dan bila ada beaya lebih maka milih yg ber AC …agar sel tubuh yg lain ikut merasa nyaman.

Hal tersebut diatas akan bertambah bebannya saat berkeluarga dan mempunyai anak maka kebutuhan si anak akan lebih diutamakan dibanding kebutuhan tubuh sendiri. Oleh karena itulah maka pemahaman level Hakekat Kepemimpinan ini lebih mudah dicapai bagi yang sudah berkeluarga dan berputra, ibaratnya telah berpraktek dan merasakan langsung jadi pemimpin bukan hanya bagi diri/tubuhnya sendiri tetapi juga memimpin keluarganya. Nah, bagi para bapak/ pemimpin keluarga …pasti sudah merasakan lelah, pusing dan repotnya membesarkan-mendidik/ menyekolahkan bahkan mencarikan pekerjaan agar sang putra bisa mandiri. Itulah sebenarnya Hakekat Kepemimpinan, bahwa pemimpin sebenarnya tak lebih dari wakil atau pelayan dari yang dipimpinnya (anakbuah, organisasi, instansi) agar tercapai tujuan visi dan misi seluruh anggota (anakbuah, organisasi, instansi) yg dipimpinnya.

Tingkatan selanjutnya adalah tingkat Makrifat Kepemimpinan. tingkatan ini merupakan wilayah ‘tak terlihat’ yang sebenarnya adalah inti dari wilayah Hakikat Kepemimpinan yang paling dalam sehingga mampu mengenali Sang Sumber Keilmuan. Bagi pemimpin yang benar-benar telah menghayati Hakekat Kepemimpinan tersebut diatas dan melaksanakan seluruh tugasnya dengan ikhlas (tidak berharap apapun terhadap yg dipimpinnya selain niat tulus agar yg dipimpinnya sukses/sejahtera/bahagia) maka sebenarnya dia telah berperilaku seperti Sang Pemilik Ilmu Kepemimpinan tersebut yaitu Sang Maha Berilmu dan Sang Maha Pencipta.

Kepemimpinan pada taraf inipun sebenarnya pada lingkup kecil (kepemimpinan ayah/ibu terhadap putranya) banyak ditemukan maka sering kita dengar pameo Jawa yg mengatakan bahwa “Bopo/Biyung iku wakile Gusti ing alam ndonyo” atau lebih dikenal dg istilah “Manunggaling Kawulo (manusia/hamba/ciptaan) lan Gusti (Sang Maha Berkuasa/ Maha Pencipta)” sehingga apa yang terucap atau terlintas di hati ayah/ibu terhadap putranya akan terwujud/terjadi dalam istilah lain “Sabdo Pandhito Ratu”, tetapi hal ini hanya berlaku dalam lingkup kecil. Nah, apabila ada pemimpin bangsa yang berperilaku seperti “Bopo/Biyung” terhadap seluruh rakyatnya seperti perlakuan pada putra kandungnya sendiri maka jadilah Sang Pemimpin ini seorang Pemimpin yang benar-benar mencerminkan “Manunggaling kawulo lan Gusti” dalam ruang lingkup yang lebuh besar dan luas maka pastilah lebih “mandi/mujarab” semua ucapan dan isi batinnya terhadap seluruh rakyatnya (tetapi tak berlaku bagi rakyat negara lain).

Demikian sedikit pemahaman tentang Tingkatan Kepemimpinan, dan hal ini berlaku pula buat cabang ilmu yang lain.

Sumber gambar : Wikipedia

Catatan: Artikel ini dipubleih pertama kali di blog abal-abal dongeng budaya, tanggal 10 June 2012, dan hari ini 10 November 2012 dipublish ulang di blog Pagelaran Kloso Bedah. Posted by wage.

12 Komentar

Filed under Uncategorized

12 responses to “Tingkatan Keilmuan Bidang Kepemimpinan

  1. Maaf Kang O-O, tanpa nunggu persetujuan, saya langsung publish. Akang orangnya segan-an dan berperasaan halus, jadi kalau menunggu Akang yang mindahin sepertinya lammmmma. Traffic PKB khan lebih baik jadi mudah2an lebih banyak yang baca.

  2. Salam simbah,kang 0-0 @ wah,.simbah ternyata orang yg tegas dan cepat mengambil kesimpulan,..seperti orang yg masih dibawah usia 40 tahun..ckckck,.hebat simbah,.hhe,.
    Kang 0-0 memang selalu rendah hati,seperti orang yg diatas usia 40 tahun..hhe,.
    Rahayu…

  3. Eh, ada kang Nur.
    Lha simbah khan masih umur 20an? wakakakkkkk……

  4. Salam simbah @ nggeh mbah,sami2,…
    Salam kang 0-0 @ permisi pak,.numpang neduh…hhe,

  5. ABR

    Salam Cak JS, Kang Nur, Kang Wager.
    Mohon maap baru menanggapi komen porosesepuh …. barusan banyak tamu silaturohim ke rumah.
    Cacak JS solah-bowo ndlosor andap-asor….. kalau IQ dan EQ biasa-biasa saja… mana mungkin bisa autodidak belajar elektronika sampai menemukan “Wimax”.
    Monggo-monggo cak…. kaaturan lenggah ndlosoran sakecanipun.
    Kang Nur…. dipersilahkan kalau membuat puisi tentang kepemimpinan silahkan dikirim… atau saya siapkan halaman khusus tentang puisi pemimpin, mohon alamat email… nanti saya undang sbg author.
    Kang Wage…. matur suwun atas bimbingannya.

  6. madakaripura

    How to know ,.. identify and ..criteria …that someone already “Makrifat ” or more than Makrifat level……… As for PHd or DR or Prof degree that easy to identify by the certificate……but unfortunaetly the GOD never issue the certificate for the such kind of makrifat degree….!!!!!also no graduation..
    Is the someone got messages from dreaming that one of criteria..???

  7. Saya cuma bisa senyum2 bacanya.
    ===unfortunaetly the GOD never issue the certificate for the such kind of makrifat degree=== @madakaripura===
    Wakakakkk……

  8. madakaripura

    ……and never find or heard the faculty of Makrifat in academy or in famous university….?….xi…xi…xi….

Bila Berkenan, Mohon Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s